Showing posts with label Binatang. Show all posts
Showing posts with label Binatang. Show all posts

Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) Khas Jambi

January 06, 2019
HARIMAU SUMATERA (Panthera tigris sumatrae) KHAS JAMBI

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yaitu subspesies harimau yang habitat aslinya di pulau Sumatera, merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga ketika ini dan termasuk dalam penjabaran satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Populasi liar diperkirakan antara 400-500 ekor, terutama hidup di taman-taman nasional di Sumatera. Uji genetik mutakhir telah mengungkapkan gejala genetik yang unik, yang membuktikan bahwa subspesies ini mungkin menjelma spesies terpisah, jika berhasil lestari. Harimau Sumatera yaitu subspesies harimau terkecil. Harimau Sumatera mempunyai warna paling gelap di antara semua subspesies harimau lainnya, contoh hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat adakala dempet. Harimau Sumatera jantan mempunyai panjang rata-rata 92 inci dari kepala ke buntut atau sekitar 250 cm panjang dari kepala hingga kaki dengan berat 300 pound atau sekitar 140 kg, sedangkan tinggi dari jantan cukup umur sanggup mencapai 60 cm. Betinanya rata-rata mempunyai panjang 78 inci atau sekitar 198 cm dan berat 200 pound atau sekitar 91 kg. Belang harimau Sumatera lebih tipis daripada subspesies harimau lain. Warna kulit harimau Sumatera merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua. Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain, terutama harimau jantan. Ukurannya yang kecil memudahkannya menjelajahi rimba. Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menyebabkan mereka bisa berenang cepat. Harimau ini diketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama jika hewan buruan tersebut lambat berenang. Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan. Harimau Sumatera hanya ditemukan di pulau Sumatera. Kucing besar ini bisa hidup di manapun, dari hutan dataran rendah hingga hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Hanya sekitar 400 ekor tinggal di cagar alam dan taman nasional, dan sisanya tersebar di daerah-daerah lain yang ditebang untuk pertanian, juga terdapat lebih kurang 250 ekor lagi yang dipelihara di kebun hewan di seluruh dunia. Harimau Sumatera mengalami bahaya kehilangan habitat alasannya yaitu kawasan sebarannya menyerupai blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut dan hutan hujan pegunungan terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh acara pembalakan dan pembangunan jalan. Karena habitat yang semakin sempit dan berkurang, maka harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih bersahabat dengan manusia, dan seringkali mereka dibunuh dan ditangkap alasannya yaitu tersesat memasuki kawasan pedesaan atau akhir perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia.


 yaitu subspesies harimau yang habitat aslinya di pulau Sumatera HARIMAU SUMATERA (Panthera tigris sumatrae) KHAS JAMBI
HARIMAU SUMATERA (Panthera tigris sumatrae) KHAS JAMBI

 yaitu subspesies harimau yang habitat aslinya di pulau Sumatera HARIMAU SUMATERA (Panthera tigris sumatrae) KHAS JAMBI

Beruang Madu (Helarctos Malayanus) Khas Bengkulu

January 06, 2019
BERUANG MADU (Helarctos malayanus) KHAS BENGKULU

Beruang madu termasuk famili ursidae dan merupakan jenis paling kecil dari kedelapan jenis beruang yang ada di dunia. Beruang ini yaitu fauna khas provinsiBengkulu sekaligus digunakan sebagai simbol dari provinsi tersebut. Beruang madu juga merupakan maskot dari kota Balikpapan. Beruang madu di Balikpapan dikonservasi di sebuah hutan lindung berjulukan Hutan Lindung Sungai Wain. Panjang tubuhnya 1,40 m, tinggi punggungnya 70 cm dengan berat berkisar 50-65 kg. Bulu beruang madu cenderung pendek, berkilau dan pada umumnya hitam, matanya berwarna cokelat ataubiru,selain itu hidungnya relatif lebar tetapi tidak terlalu moncong. Jenis bulu beruangmadu yaitu yang paling pendek dan halus dibandingkan beruang lainnya, berwarnahitam kelam atau hitam kecoklatan, di bawah bulu lehernya terdapat tanda yang unik berwarna oranye yang dipercaya menggambarkan matahari terbit. Berbeda dengan beruang madu dewasa, bayi beruang madu yang gres lahir mempunyai bulu yang lebih lembut, tipis dan bersinar. Karena hidupnya di pepohonan maka telapak kaki beruang ini tidak berbulu sehingga dia sanggup bergerak dengan kecepatan sampai 48 kilometer per jam dan mempunyai tenaga yang sangat kuat. Beruang madu hidup di hutan-hutan primer, hutan sekunder dan sering juga di lahan-lahan pertanian, mereka biasanya berada di pohon pada ketinggian 2-7 meter dari tanah, dan suka mematahkan cabang-cabang pohon atau membuatnya melengkung untuk menciptakan sarang. Habitat beruang madu terdapat di kawasan hujan tropis Asia Tenggara. Penyebarannya terdapat di pulau Borneo,Sumatera, Indocina, Cina Selatan, Burma, serta Semenanjung malaya. Oleh alasannya yaitu itulah, jenis ini tidak memerlukan masa hibernasi menyerupai beruang lain yang tinggal di wilayah empat musim. Beruang madu di masa kemudian diketahui tersebar hampir di seluruhbenua Asia, namun kini menjadi semakin jarang jawaban kehilangan dan fragmentasi habitat.

BERUANG MADU (Helarctos malayanus)

Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) Khas Lampung

January 05, 2019
GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) KHAS LAMPUNG

Gajah Sumatera ialah subspesies dari gajah Asia yang hanya berhabitat dipulau Sumatera. Gajah Sumatera berpostur lebih kecil daripada subspesies gajah India. Populasinya semakin menurun dan menjadi spesies yang sangat terancam. Sekitar 2000-2700 ekor gajah Sumatera yang tersisa di alam liar menurut survei tahun 2000. Sebanyak 65% populasi gajah Sumatera lenyap akhir dibunuh insan dan 30% kemungkinan diracuni manusia. Sekitar 83% habitat gajah Sumatera telah menjadi wilayah perkebunan akhir perambahan yang bergairah untuk perkebunan. Gajah sumatera ialah mamalia terbesar di Indonesia, beratnya mencapai 6 ton dan tumbuh setinggi 3,5 m pada bahu. Periode kehamilan untuk bayi gajah ialah 22 bulan dengan umur rata-rata hingga 70 tahun. Herbivora raksasa ini sangat cerdas dan mempunyai otak yang lebih besar dibandingkan dengan mamalia darat lain. Telinga yang cukup besar membantu gajah mendengar dengan baik dan membantu mengurangi panas badan menyerupai darah panas masbodoh dikala mengalir di bawah permukaan telinga. Belalainya dipakai untuk mendapat makanan dan air, dan mempunyai perhiasan sanggup memegang (menggenggam) di ujungnya yang dipakai menyerupai jari untuk meraup.

GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus)

Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus) Hewan Khas Banten

January 05, 2019
BADAK JAWA (Rhinoceros sondaicus) KHAS BANTEN

Badak jawa atau Badak bercula-satu kecil (Rhinoceros sondaicus) ialah anggota famili Rhinocerotidae dan satu dari lima rino yang masih ada. Badak ini masuk ke genus yang sama dengan rino india dan mempunyai kulit bermosaik yang ibarat baju baja. Badak ini mempunyai panjang 3,1-3,2 m dan tinggi 1,4-1,7 m. Badak ini lebih kecil daripada rino india dan lebih bersahabat dalam besar badan dengan rino hitam. Ukuran culanya biasanya lebih sedikit daripada 20 cm, lebih kecil daripada cula spesies rino lainnya. Badak ini pernah menjadi salah satu rino di Asia yang paling banyak menyebar. Meski disebut "badak jawa", hewan ini tidak terbatas hidup diPulau Jawa saja, tapi di seluruh Nusantara, sepanjang Asia Tenggara dan di India sertaTiongkok. Spesies ini sekarang statusnya sangat kritis, dengan hanya sedikit populasi yang ditemukan di alam bebas, dan tidak ada di kebun binatang. Badak ini kemungkinan ialah mamalia terlangka di bumi. Populasi 40 - 50 rino hidup di Taman Nasional Ujung Kulon di pulau Jawa, Indonesia. Populasi rino Jawa di alam bebas lainnya berada di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam dengan asumsi populasi tidak lebih dari delapan pada tahun 2007. Berkurangnya populasi rino jawa diakibatkan oleh perburuan untuk diambil culanya, yang sangat berharga pada pengobatan tradisionalTiongkok, dengan harga sebesar $30.000 per kilogram di pasar gelap. Berkurangnya populasi rino ini juga disebabkan oleh kehilangan habitat, yang terutama diakibatkan oleh perang, mirip perang Vietnam di Asia Tenggara juga mengakibatkan berkurangnya populasi rino Jawa dan menghalangi pemulihan. Tempat yang tersisa hanya berada di dua kawasan yang dilindungi, tetapi rino jawa masih berada pada resiko diburu, peka terhadap penyakit dan menciutnya keragaman genetik menyebabkannya terganggu dalam berkembangbiak. WWF Indonesia mengusahakan untuk membuatkan kedua bagi rino jawa lantaran kalau terjadi serangan penyakit atau musibah sepertitsunami, letusan gunung berapi Krakatau dan gempa bumi, populasi rino jawa akan eksklusif punah. Selain itu, lantaran invasi langkap (arenga) dan kompetisi dengan banteng untuk ruang dan sumber, maka populasinya semakin terdesak. Kawasan yang diidentifikasikan kondusif dan relatif bersahabat ialah Taman Nasional Halimun di Gunung Salak, Jawa Barat yang pernah menjadi habitat rino Jawa.


GAMBAR. BADAK JAWA KHAS BANTAN

Terdapat tiga subspesies, yang hanya dua subspesies yang masih ada, sementara satu subspesies telah punah:

· Rhinoceros sondaicus sondaicus, tipe subspesies yang diketahui sebagai rino Jawa Indonesia' yang pernah hidup di Pulau Jawa dan Sumatra. Kini populasinya hanya sekitar 40-50 di Taman Nasional Ujung Kulon yang terletak di ujung barat Pulau Jawa. Satu peneliti mengusulkan bahwa rino jawa diSumatra masuk ke dalam subspesies yang berbeda, R.s. floweri, tetapi hal ini tidak diterima secara luas.

· Rhinoceros sondaicus annamiticus, diketahui sebagai Badak Jawa Vietnam atauBadak Vietnam, yang pernah hidup di sepanjang Vietnam, Kamboja, Laos,Thailand dan Malaysia. Annamiticus berasal dari formasi pegunungan Annam diAsia Tenggara, kepingan dari tempat hidup spesies ini. Kini populasinya diperkirakan lebih sedikit dari 12, hidup di hutan daratan rendah di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam. Analisis genetika memberi kesan bahwa dua subspesies yang masih ada mempunyai leluhur yang sama antara 300.000 dan 2 juta tahun yang lalu.

· Rhinoceros sondaicus inermis, diketahui sebagai Badak jawa india, pernah hidup di Benggala hingga Burma (Myanmar), tetapi dianggap punah pada dasawarsa awal tahun 1900-an. Inermis berarti tanpa cula, lantaran karakteristik rino ini ialah cula kecil pada rino jantan, dan tak ada cula pada betina. Spesimen spesies ini ialah betina yang tidak mempunyai cula. Situasi politik diBurma mencegah taksiran spesies ini di negara itu, tetapi keselamatannya dianggap tak sanggup dipercaya.

Binatang Khas Jawa Barat Macan Tutul Jawa (Panthera Pardus Melas)

January 05, 2019
MACAN TUTUL JAWA (Panthera pardus melas) KHAS JAWA BARAT

Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) atau macan kumbang yakni salah satu subspesies dari macan tutul yang hanya ditemukan di hutan tropis, pegunungan dan daerah konservasi Pulau Jawa, Indonesia. Ia mempunyai dua variasi: berwarna jelas dan hitam (macan kumbang). Macan tutul jawa yakni satwa indentitas Provinsi Jawa Barat. Dibandingkan dengan macan tutul lainnya, macan tutul jawa berukuran paling kecil, dan mempunyai indra penglihatan dan penciuman yang tajam. Subspesies ini pada umumnya mempunyai bulu menyerupai warna sayap kumbang yang hitam mengkilap dengan bintik-bintik gelap berbentuk kembangan yang hanya terlihat di bawah cahaya terang. Bulu hitam Macan Kumbang sangat membantu dalam menyesuaikan diri dengan habitat hutan yang lebat dan gelap. Macan Kumbang betina serupa, dan berukuran lebih kecil dari jantan. Hewan ini soliter, kecuali pada ekspresi dominan berbiak. Ia lebih aktif berburu mangsa di malam hari. Mangsanya yang terdiri dari aneka binatang lebih kecil biasanya diletakkan di atas pohon. Macan tutul merupakan satu-satunya kucing besar yang masih tersisa di Pulau Jawa. Frekuensi tipe hitam (kumbang) relatif tinggi. Warna hitam ini terjadi akhir satu alel resesif yang dimiliki binatang ini. Sebagian besar populasi macan tutul sanggup ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, meskipun di semua taman nasional di Jawa dilaporkan pernah ditemukan binatang ini, mulai dari Ujung Kulon sampai Baluran. Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan, penangkapan liar, serta daerah dan populasi dimana binatang ini ditemukan sangat terbatas, macan tutul jawa dievaluasikan sebagai Kritis semenjak 2007 di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalamCITES Appendix I. Satwa ini dilindungi di Indonesia, yang tercantum di dalam UU No.5 tahun 1990 dan PP No.7 tahun 1999.


Gambar.MACAN TUTUL JAWA (Panthera pardus melas)

Binatang Khas Bali Jalak Bali (Leucopsar Rotschildi)

January 05, 2019
JALAK BALI (Leucopsar rotschildi) KHAS BALI

Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) ialah sejenis burung pengicau berukuran sedang, dengan panjang lebih kurang 25cm, dari suku Sturnidae. Jalak Bali mempunyai ciri-ciri khusus, di antaranya mempunyai bulu yang putih di seluruh tubuhnya kecuali pada ujung ekor dan sayapnya yang berwarna hitam. Bagian pipi yang tidak ditumbuhi bulu, berwarna biru cerah dan kaki yang berwarna keabu-abuan. Burung jantan dan betina serupa. Endemik Indonesia, Jalak Bali hanya ditemukan di hutan bab barat Pulau Bali. Burung ini juga merupakan satu-satunya spesies endemik Bali dan pada tahun1991 dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali. Keberadaan binatang endemik ini dilindungi undang-undang. Jalak Bali ditemukan pertama kali pada tahun 1910. Nama ilmiah Jalak Bali dinamakan berdasarkan pakar binatang berkebangsaan Inggris, Walter Rothschild, sebagai orang pertama yang mendeskripsikan spesies ini ke dunia pengetahuan pada tahun 1912. Jenis ini aktif mencari makan di antara pohon dan tumbuhan bawah di hutan. Utamanya di daerah ekoton yaitu antara tempat berhutan dan padang rumput yang luas, serta di sepanjang hutan pinggiran sungai. Umumnya hidup dalam kelompok kecil atau berpasangan. Jalak bali merupakan burung yang jarang mencari makan di atas permukaan tanah namun, dikala animo kering beliau akan turun ke tanah untuk mencari avertebrata. Karena penampilannya yang indah dan elok, jalak Bali menjadi salah satu burung yang paling diminati oleh para kolektor dan pemelihara burung. Penangkapan liar, hilangnya habitat hutan, serta daerah burung ini ditemukan sangat terbatas menjadikan populasi burung ini cepat menyusut dan terancam punah dalam waktu singkat. Untuk mencegah hal ini hingga terjadi, sebagian besar kebun binatang di seluruh dunia menjalankan aktivitas penangkaran jalak Bali. Ancaman utama yang dihadapi burung yang pertama kali dideskripsikan tahun 1912 ini ialah adanya perubahan habitat alami di sepanjang barat bahari pantai Bali. Ancaman lainnya ialah penangkapan yang tidak terkendali (ilegal) untuk memenuhi pasokan pasar dunia sebagai binatang peliharaan. Populasinya yang sangat sedikit di alam, menciptakan IUCN menetapkan statusnya Kritis (Critically Endangered/CR).
 
 
Gambar,JALAK BALI (Leucopsar rotschildi) KHAS BALI

Rusa Timor (Cervus Timorensis) Khas Nusa Tenggara Barat

January 05, 2019
RUSA TIMOR (Cervus timorensis) KHAS NUSA TENGGARA BARAT

Rusa Timor atau Rusa Sunda Sambar (Rusa timorensis) ialah rusa orisinil pulauJawa, Bali dan Timor (bersama dengan Timor Leste). Ini juga merupakan spesies dikenali di Irian Jaya, Kalimantan (Kalimantan), Kepulauan Sunda Kecil, Maluku,Sulawesi, Australia, Mauritius, Kaledonia Baru, Selandia Baru, Papua Nugini danRéunion. Ini menempati habitat yang sama dengan yang ada pada Chital of India membuka hutan kering dan adonan gugur, taman, dan sabana. Ini ialah kerabat akrab yang lebih besar Rusa Sambar . Hal ini cukup diburu di Australia timur. Rusa ini telah membentuk populasi di kawasan terpencil pulau, mungkin dibawa ke sana oleh nelayan Indonesia. Mereka menyesuaikan diri dengan baik, hidup nyaman di semak kering Australia ibarat yang mereka lakukan di tanah air tropis mereka. Sifat ini ditunjukkan dengan baik lebih seringnya ditemukan di pinggiran Wollongong dan Sydney dan khususnya di Royal National Park. Ini menunjukkan terus meningkat kuatnya populasinya. Rusa timor (Cervus timorensis) yang ditetapkan menjadi fauna identitas Nusa Tenggara Barat, mempunyai bulu berwarna coklat kemerah-merahan sampai abu-abu kecoklatan dengan bab bawah perut dan ekor berwarna putih. Rusa timor sampaumur mempunyai panjang tubuh berkisar antara 195-210 cm dengan tinggi tubuh mencapai antara 91-110 cm. Rusa timor (Cervus timorensis) mempunyai berat tubuh antara 103-115 kg walaupun rusa timor yang berada dipenangkaran bisa mempunyai bobot sekitar 140 kg. Ukuran rusa timor ini meskipun kalah besar dari sambar (Cervus unicolor) namun dibandingkan dengan rusa jenis lainnya ibarat rusa bawean, dan menjangan, ukuran tubuh rusa timor lebih besar.

Gambar. Rusa timur

Binatang Khas Kalimantan Barat

January 04, 2019
ENGGANG GADING (Rhinoplax vigil) KHAS KALIMANTAN BARAT

Enggang Gading atau Rangkong Gading (Buceros/rhinoplax vigil) yakni burung berukuran besar dari keluarga Bucerotidae. Burung dini ditemukan di Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan. Burung ini juga menjadi maskot ProvinsiKalimantan Barat, dan termasuk dalam jenis fauna yang dilindungi undang-undang. Dalam budaya Kalimantan, burung Rangkong gading (tingan) merupakan simbol "Alam Atas" yaitu alam kedewataan yang bersifat "maskulin". Di Pulau Kalimantan, burung Rangkong gading digunakan sebagai lambang kawasan atau simbol organisasi menyerupai di lambang negeri Sarawak, lambang provinsi Kalimantan Barat, satwa identitas provinsiKalimantan Barat, simbol Universitas Lambung Mangkurat dan sebagainya. Burung Rangkong (Enggang) yakni burung yang terdiri dari 57 spesies yang tersebar di Asia dan Afrika. 14 diantaranya terdapat di Indonesia. Di antara enggang, jenis enggang gading yakni yang terbesar ukurannya, baik kepala, paruh dan tanduknya yang menutupi penggalan dahinya. Enggang gading yakni salah satu dari 14 jenis burung rangkong yang ada di Indonesia dan menjadi maskot provinsi Kalimantan Barat. Karena jumlahnya yang semakin sedikit burung ini termasuk dalam jenis fauna yang dilindungi undang-undang. Burung Enggang Gading diwujudkan dalam bentuk gesekan pada Budaya Dayak, sedangkan dalam budaya Banjar, burung Enggang Gading diukir dalam bentuk tersamar (didistilir) sebab Budaya Banjar tumbuh di bawah imbas agama Islam yang melarang adanya gesekan makhluk bernyawa. Enggang Gading juga merupakan simbol budaya suku Naga di India timur. Binatang yang dilindungi ini pada usia mudanya memiliki paruh dan mahkota berwarna putih. Seiring usianya, paruh dan mahkotanya akan berubah warna menjadi oranye dan merah, ini akhir dari seringnya enggang menggesekkan paruh ke kelenjar penghasil warna oranye merah yang terletak di bawah ekornya. Burung ini menyukai daun Ara sebagai masakan favoritnya, tapi tidak jarang juga makan serangga, tikus, kadal bahkan burung kecil. Burung enggang biasa bertengger di pohon yang tinggi, sebelum terbang Enggang memperlihatkan tanda dengan mengeluarkan bunyi gak yang keras. Ketika sudah mengudara kepakan sayap enggang mengeluarkan bunyi yang dramatik. Burung ini hidup berkelompok sekitar 2 hingga 10 ekor tiap pohon. Terkadang burung terbang bersama dalam jumlah antara 20-30 ekor. Suara enggang ini sangat khas dan nyaring sekali seolah-olah memanggil sekawanannya di balik pohon yang rindang. Musim telurnya dari bulan April hingga Juli dan belum dewasa burung yang lebih besar membantu burung jantan cukup umur menyediakan makan bagi burung betina dan anak-anaknya yang gres menetas. Namun kini ini burung enggang merupakan burung langka yang sudah sangat sulit di temui di hutan Kalimantan, ini dikarenakan pengerusakan hutan borneo yang terus-menerus terjadi, menyerupai penebangan hutan baik illegal logging maupun untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit. Nasib burung enggang ini kini sama menyerupai nasib suku Dayak di borneo yang semakin terpinggirkan di tanahnya sendiri. Hal ini juga diperparah dengan maraknya perburuan yang dilakukan masyarakat sekitar. Harga persatu kepala burung Enggang dihargai Rp. 2,5 juta. Karena harganya yang mahal banyak warga pedalaman berlomba berburu burung tersebut dihutan.



Binatang Khas Kalimantan Tengah

January 04, 2019
KUAU KERDIL KALIMANTAN (Polyplectron schleiermacheri) KHAS KALIMANTAN TENGAH

Kuau-kerdil Kalimantan, Polyplectron schleiermacheri, yakni jenis kuau-kerdilberukuran sedang yang berhabitat di hutan hujan dataran rendah Pulau Kalimantan. Kuau ini yakni jenis kuau merak yang paling langka dan sudah jarang ditemui. Cirinya yakni ukuran tubuhnya yang maksimal sanggup tumbuh hingga 50 cm dengan bintik-bintik pada tubuhnya. Kuau merak Kalimantan masih berkerabat dengan kuau-kerdil Malaya dan kuau-kerdil Palawan. Beberapa ilmuwan menganggap jenis ini merupakan subspesies dari kuau-kerdil Malaya. Berukuran sedang (jantan 42 cm, betina 38 cm). Pada sayap dan ekor, terdapat tanda bintik metalik berbentuk ibarat mata (hijau pada jantan, biru pada betina). Jantan: jambul hijau metalik, dada hijau keunguan mengkilap, tenggorokan dan bercak dada putih. Betina: lebih suram dan lebih biru. Keduanya: pipi dan tenggorokan kuning pucat, kontras dengan bulu lainnya. Iris kuning, paruh kehijauan gelap, kulit muka gundul dan merah, kaki dan tungkai hitam (jantan dengan dua taji). Burung pemalu yang jarang ditemui, hanya diketahui di tempat-tempat yang terpencar di hutan dataran rendah hingga ketinggian 1100 m. Hidup di hutan primer. Bertengger di pohon, tetapi berjalan rahasia di lantai hutan sepanjang siang. Jantan bersuara serta memainkan sayap dan ekornya, tetapi tidak punya daerah menetap.

Binatang Khas KALIMANTAN TENGAH


Binatang Khas Kalimantan Selatan

January 04, 2019
BEKANTAN (Nasalis larvatus) KHAS KALIMANTAN SELATAN

Bekantan atau dalam nama ilmiahnya Nasalis larvatus yaitu sejenis monyetberhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus tunggal simpanse Nasalis. Ciri-ciri utama yang membedakan bekantan dari simpanse lainnya yaitu hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Fungsi dari hidung besar pada bekantan jantan masih tidak jelas, namun ini mungkin disebabkan oleh seleksi alam. Monyet betina lebih menentukan jantan dengan hidung besar sebagai pasangannya. Karena hidungnya inilah, bekantan dikenal juga sebagai simpanse Belanda. Dalam bahasa Brunei (kxd) disebut bangkatan. Bekantan jantan berukuran lebih besar dari betina. Ukurannya sanggup mencapai 75 cm dengan berat mencapai 24 kg. Monyet betina berukuran 60 cm dengan berat 12 kg. Spesies ini juga mempunyai perut yang besar, sebagai hasil dari kebiasaan mengonsumsi makanannya. Selain buah-buahan dan biji-bijian, bekantan memakan aneka daun-daunan, yang menghasilkan banyak gas pada waktu dicerna. Ini menjadikan pengaruh samping yang menciptakan perut bekantan jadi membuncit. Bekantan tersebar danendemik di hutan bakau, rawa dan hutan pantai di pulau Borneo (Kalimantan, Sabah, Serawak dan Brunai). Spesies ini menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon dan hidup dalam kelompok-kelompok yang berjumlah antara 10 hingga 32 monyet. Sistem sosial bekantan intinya yaitu One-male group, yaitu satu kelompok terdiri dari satu jantan dewasa, beberapa betina remaja dan anak-anaknya. Selain itu juga terdapat kelompok all-male, yang terdiri dari beberapa bekantan jantan. Jantan yang menginjak remaja akan keluar dari kelompok one-male dan bergabung dengan kelompok all-male. Hal itu dimungkinkan sebagai taktik bekantan untuk menghindari terjadinya inbreeding. Bekantan juga sanggup berenang dengan baik, adakala terlihat berenang dari satu pulau ke pulau lain. Untuk menunjang kemampuan berenangnya, pada sela-sela jari kaki bekantan terdapat selaputnya. Selain hebat berenang bekantan juga bisa menyelam dalam beberapa detik, sehingga pada hidungnya juga dilengkapi semacam katup. Bekantan merupakan maskot fauna provinsi Kalimantan Selatan. Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan dan penangkapan liar yang terus berlanjut, serta sangat terbatasnya kawasan dan populasi habitatnya, bekantan dievaluasikan sebagai Terancam Punah di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITESAppendix I.



BEKANTAN (Nasalis larvatus) KHAS KALIMANTAN SELATAN

Pesut Mahakam Hewan Khas Kalimantan Timur

January 04, 2019
PESUT MAHAKAM (Orcaella brevirostris) KHAS KALIMANTAN TIMUR

Tidak ada catatan fosil. Pesut pertama kali dideskripsikan oleh Sir Richard Owen tahun 1866 menurut satu spesiemen yang ditemukan tahun 1852, di pelabuhan Vishakhapatnum di pantai timur India. Pesut yakni satalh satu spesies dari genus Orcaella. Kadang-kadang pesut terdaftar dalam bermacam-macam famili yang terdiri dari ia sendiri dan pada Monodontidae dan dalam Delphinapteridae. Sekarang ada persetujuan bahwa pesut termasuk famili Delphinidae. Secara genetis, pesut berafiliasi akrab dengan paus pembunuh. Nama spesies brevirostris berasal dari bahasa Latin yang berarti berparuh pendek. Tahun 2005, analisis genetik menunjukkan bahwa lumba-lumba sirip pendek Australia merupakan spesies kedua dari genus Orcaella. Seluruh badan berwarna kelabu sampai biru tua, bab bawahnya berwarna lebih pucat. Tidak ada referensi yang khas. Sirip punggung kecil dan membulat di tengah punggung. Dahinya tinggi dan membulat; tidak bermoncong. Sirip tangan lebar membulat. Spesies di Kalimantan yang seolah-olah yakni Porpoise tak bersirip, Neophocaena phocaenoides, seolah-olah tapi tidak punya sirip punggung: lumba-lumba bungkuk, Sausa chinensis, lebih besar, moncong lebih panjang dan sirip punggung lebih besar. Dalam banyak sekali bahasa Orcaella brevirostris(nama Latin) adalah: Inggris: Irrawaddy dolphin, Dialek lokal Chilika: Baslnyya MagaratauBhuasuni Magar (lumba-lumba penghasil minyak), Oriya: Khem dan Khera, Perancis:Orcelle, Spanyol: Delfín del Irrawaddy, Jerman: Irrawadi Delphin, Burma: Labai,Indonesia: Pesut, Melayu: Lumbalumba, Khmer: Ph’sout, Lao: Pha’ka and Filipino:Lampasut. Dalam bahasa Thai, salah satu namanya yakni pía loma hooa baht, alasannya yakni kepalanya yang membundar dianggap ibarat mangkuk rahib Budhha, hooa baht. Penampilan pesut seolah-olah dengan beluga, meski lebih berkerabat dengan orka. Spesies ini memiliki melon (jaringan berlemak dan berminyak di kepala). Moncongnya tidak khas. Sirip punggung yang terletak dua pertiga posterior di punggung, pendek, tumpul, dan segitiga. Sirip tangan panjang dan lebar. Secara keseluruhan ia berwarna cerah, namun lebih putih di bawah badan daripada di punggung. Pesut cukup umur beratnya lebih dari 130 kg dan panjangnya 2,3 m psaat dewasa. Panjang maksimum yang tercatat yakni jantan 2,75 m dari Thailand.


PESUT MAHAKAM (Orcaella brevirostris) KHAS KALIMANTAN TIMUR


Julang Sulawesi Hewan Khas Sulawesi Selatan

January 04, 2019
JULANG SULAWESI (Aceros cassidix) KHAS SULAWESI SELATAN

Julang sulawesi (Aceros cassidix) ialah spesies burung rangkong dalam familiBucerotidae. Burung ini endemik di Sulawesi. Di kawasan Minahasa. burung ini dikenal dengan nama Burung Taong. Burung ini mempunyai warna mencolok mata, dengan warna badan hitam, paruh kuning emas, dan warna merah mencolok di atas paruhnya, ekor berwarna putih, warna biru di sekitar mata, kaki kehitaman dan warna leher biru. Berukuran sangat besar (104 cm), berekor putih dan paruh bertanduk. Jantan: tanduk merah tua; kepala, leher dan dada bungalan merah-karat. Betina: kepala dan leher hitam, tanduk kuning lebih kecil. Panjang badan sanggup mencapai 100 cm pada jantan, dan 88 cm pada betina. Julang Sulawesi mempunyai tanduk (casque) yang besar di atas paruh, berwarna merah pada jantan dan kuning pada betina. Paruh berwarna kuning dan mempunyai kantung biru pada tenggorokan. Julang sulawesi menghuni hutan primer dan hutan rawa. Terkadang ditemukan di hutan sekunder yang tinggi dan petak hutan yang tersisa dengan lahan pertanian yang luas. Terkadang pula mengunjungi hutan bakau. Julang Sulawesi biasa terbang di atas dan sekeliling tajuk dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah, namun terkadang berkelompok hingga lima puluh individu atau lebih. Ketika terbang sayapnya berbunyi berisik menyerupai mesin uap. Julang sulawesi ialah spesies endemik di Pulau Sulawesi dan beberapa pulau satelit. Burung yng umum dijumpai, menghuni hutan primer dan hutan rawa. Kadang di hutan sekunder yang tinggi dan petak-petak hutan yang tersisa dalam lahan budidaya yang luas, juga mengunjungi hutan mangrove. Dari permukaan bahari hingga ketinggian 1100 m kadang hingga 1800 m. Makanannya antara lain buuah-buahan, serangga, juga telur dan anakan burung. Biasanya mencari masakan di tajuk atas pohon. Musim berbiak pada Juni-September. Bersarang pada lubang/ceruk pohon yang besar. Selama mengerami telur, betina tidak keluar dari sarang, masakan disediakan oleh jantan. Biasanya hanya membesarkan satu ekor anakan.Sulawesi menyerupai Pulau Lembeh, Kepulauan Togian,Pulau Muna dan Pulau Butung


JULANG SULAWESI (Aceros cassidix) KHAS SULAWESI SELATAN


Binatang Khas Sulawesi Barat Mandar Dengkur

January 04, 2019
MANDAR DENGKUR (Aramidopsis plateni) KHAS SULAWESI BARAT  

Mandar dengkur (bahasa Latin: Aramidopsis plateni) ialah burung endemikSulawesi dan merupakan fauna identitas provinsi Sulawesi Barat. Burung ini rentan terhadap kepunahan. Tinggi burung ini ialah 29 cm, paruhnya agak panjang, muka dan penggalan bawahnya berwarna abu-abu; tenggorokan keputih-putihan; sisi perut berpalang hitam dan putih dan paruhnya berwarna kemerahan. Bunyi burung mandar dengkur ialah lebih terdengar mendengkur damai selama 1-2 detik, termasuk bunyi singkat wheez yang diikuti cepat oleh bunyi dengkur ee-orrrr yang berlarut-larut, panjang, yang dengan gampang dapat salah dikenali sebagai bunyi babi liar. Juga bunyi napas yang singkat dan redam. Hidup berpasangan atau berkelompok dalam jumlah kecil. Sangat mencolok dikala terbang, dengan kepakan sayap yang cepat dan berpengaruh diselingi gerakan melayang serta saling meneriaki. Bila sedang bersuara dari kawasan bertengger, jambul ditegakkan kemudian diturunkan. Jenis ini tertekan dengan ledakan populasi yang mengejutkan selama 10-15 tahun terakhir, jawaban penangkapan yang berlebihan untuk perdagangan burung dalam sangkar, dan kini langka jawaban aktivitas ini. Menghuni hutan primer dan sekunder yang tinggi dan tepi hutan; juga hutan monsun (Nusa Tenggara), hutan yang tinggi bersemak, semak yang pohonnya jarang dan lahan budidaya yang pohonnya jarang. Mandar dengkur ialah pemakan segala atauomnivora, akan tetapi burung ini lebih sering memakan tumbuhan. Habitat mandar dengkur ialah hutan primer dan hutan sekunder berpohon tinggi di dataran rendah sampai ketinggian 1300 m diatas permukaan laut


Gambar.MANDAR DENGKUR


Binatang Khas Sulawesi Tenggara

January 04, 2019
ANOA (Bubalus depressicornis) KHAS SULAWESI TENGGARA

Anoa ialah binatang khas Sulawesi. Ada dua spesies anoa yaitu: Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) dan Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis). Keduanya tinggal dalam hutan yang tidak dijamah manusia. Penampilan mereka seakan-akan dengan kerbau dan mempunyai berat 150-300 kg. Anak anoa akan dilahirkan sekali setahun. Kedua spesies tersebut sanggup ditemukan di Sulawesi, Indonesia. Sejak tahun 1960-an berada dalam status terancam punah. Diperkirakan dikala ini terdapat kurang dari 5000 ekor yang masih bertahan hidup. Anoa sering diburu untuk diambil kulitnya, tanduknya dan dagingnya. Anoa Pegunungan juga dikenal dengan nama Mountain Anoa, Anoa de Montana, Anoa de Quarle, Anoa des Montagnes, dan Quarle's Anoa. Sedangkan Anoa Dataran Rendah juga dikenal dengan nama Lowland Anoa, Anoa de Ilanura, atau Anoa des Plaines. Secara umum, anoa mempunyai warna kulit seakan-akan kerbau, tanduknya lurus ke belakang serta meruncing dan agak memipih. Hidupnya berpindah-pindah tempat dan apabila menjumpai musuhnya anoa akan mempertahankan diri dengan mencebur ke rawa-rawa atau apabila terpaksa akan melawan dengan memakai tanduknya. Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis) sering disebut sebagai Kerbau kecil, lantaran Anoa memang seakan-akan kerbau, tetapi pendek serta lebih kecil ukurannya, kira-kira sebesar kambing. Spesies berjulukan latin Bubalus depressicornis ini disebut sebagai Lowland Anoa, Anoa de Ilanura, atau Anoa des Plaines. Anoa yang menjadi fauna identitas provinsi Sulawesi tenggara ini lebih sulit ditemukan dibandingkan anoa pegunungan. Anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) mempunyai ukuran badan yang relatif lebih gemuk dibandingkan saudara dekatnya anoa pegunungan (Bubalus quarlesi). Panjang tubuhnya sekitar 150 cm dengan tinggi sekitar 85 cm. Tanduk anoa dataran rendah panjangnya 40 cm. Sedangkan berat badan anoa dataran rendah mencapai 300 kg. Anoa dataran rendah sanggup hidup hingga mencapai usia 30 tahun yang matang secara seksual pada umur 2-3 tahun. Anoa betina melahirkan satu bayi dalam setiap masa kehamilan. Masa kehamilannya sendiri sekitar 9-10 bulan. Anak anoa akan mengikuti induknya hingga berusia remaja meskipun telah disapih dikala umur 9-10 bulan. Sehingga tidak jarang satu induk terlihat bersama dengan 2 anak anoa yang berbeda usia. Anoa dataran rendah hidup dihabitat mulai dari hutan pantai hingga dengan hutan dataran tinggi dengan ketinggian 1000 m diatas permukaan laut. Anoa menyukai tempat hutan ditepi sungai atau danau mengingat satwa langka yang dilindungi ini selain membutuhkan air untuk minum juga gemar berendam ketika sinar matahari menyengat. Anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) sering disebut juga sebagai Mountain Anoa, Anoa de montagne, Anoa de Quarle, Berganoa, dan Anoa de montaña. Dalam bahasa latin anoa pegunungan disebut Bubalus quarlesi. Anoa pegunungan mempunyai ukuran badan yang lebih ramping dibandingkan anoa datarn rendah. Panjang tubuhnya sekitar 122-153 cm dengan tinggi sekitar 75 cm. Panjang tanduk anoa pegunungan sekitar 27 cm dengan berat badan remaja sekitar 150 kg. Anoa pegunungan berusia antara 20-25 tahun yang matang secara seksual dikala berusia 2-3 tahun. Seperti anoa dataran rendah, anoa ini hanya melahirkan satu bayi dalam setiap masa kehamilan yang berkisar 9-10 bulan. Anak anoa akan mengikuti induknya hingga berusia remaja meskipun telah disapih dikala umur 9-10 bulan. Sehingga tidak jarang satu induk terlihat bersama dengan 2 anak anoa yang berbeda usia. Anoa pegunungan berhabitat di hutan dataran tinggi hingga mencapai ketinggian 3000 m diatas permukaan bahari meskipun terkadang anoa jenis ini terlihat turun ke pantai untuk mencari garam mineral yang dibutuhkan dalam proses metabolismenya. Anoa pegunungan cenderung lebih aktif pada pagi hari, dan beristirahat dikala tengah hari. Anoa sering berlindung di bawah pohon-pohon besar, di bawah watu menjorok, dan dalam ruang di bawah akar pohon atau berkubang di lumpur dan kolam. Tanduk anoa dipakai untuk menyibak semak-semak atau menggali tanah Benjolan permukaan depan tanduk dipakai untuk menunjukkan dominasi, sedangkan pada dikala perkelahian, penggalan ujung yang tajam menusuk ke atas dipakai dalam upaya untuk melukai lawan. Ketika bersemangat, anoa pegunungan mengeluarkan bunyi “moo”. Populasi dan Konservasi. Anoa semakin hari semakin langka dan sulit ditemukan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) yang menjadi maskot provinsi Sulawesi Tenggara tidak pernah terlihat lagi. Karena itu semenjak tahun 1986, IUCN Redlist memasukkan kedua jenis anoa ini dalam status konservasi “endangered” (Terancam Punah). Selain itu CITES juga memasukkan kedua satwa langka ini dalam Apendiks I yang berarti dilarang diperjual belikan. Pemerintah Indonesia juga memasukkan anoa sebagai salah satu satwa yang dilindungi dalam Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Beberapa tempat yang masih terdapat satwa langka yang dilindungi ini antaranya ialah Cagar Alam Gunung Lambusango, Taman Nasional Lore-Lindu dan TN Rawa Aopa Watumohai (beberapa pihak menduga sudah punah). Anoa bergotong-royong tida mempunyai musuh (predator) alami. Ancaman kepunahan satwa endemik Sulawesi ini lebih disebabkan oleh deforestasi hutan(pembukaan lahan pertanian dan pemukiman) dan perburuan yang dilakukan insan untuk mengambil daging, kulit, dan tanduknya.

Gambar. ANOA (Bubalus depressicornis)

Binatang Khas Sulawesi Tengah Maleo Senkawor

January 04, 2019
MALEO SENKAWOR (Macrocephalon maleo) KHAS SULAWESI TENGAH


Maleo Senkawor atau Maleo, yang dalam nama ilmiahnya Macrocephalon maleo yaitu sejenis burung gosong berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55 cm, dan merupakan satu-satunya burung di dalam genus tunggal Macrocephalon. Yang unik dari maleo adalah, ketika gres menetas anak burung maleo sudah bisa terbang. Ukuran telur burung maleo beratnya 240 gram sampai 270 gram per butirnya, ukuran rata-rata 11 cm, dan perbandingannya sekitar 5 sampai 8 kali lipat dari ukuran telur ayam. Namun ketika ini mulai terancam punah sebab habitat yang semakin sempit dan telur-telurnya yang diambil oleh manusia. Diperkirakan jumlahnya kurang dari 10.000 ekor ketika ini. Burung ini mempunyai bulu berwarna hitam, kulit sekitar mata berwarna kuning, iris mata merah kecoklatan, kaki abu-abu, paruh jingga dan bulu sisi bawah berwarna merah-muda keputihan. Di atas kepalanya terdapat tanduk atau jambul keras berwarna hitam. Jantan dan betina serupa. Biasanya betina berukuran lebih kecil dan berwarna lebih kelam dibanding burung jantan. Tidak semua tempat di Sulawesi bisa ditemukan maleo. Sejauh ini, ladang peneluran hanya ditemukan di tempat yang memliki sejarah geologi yang berafiliasi dengan lempeng pasifik atau Australasia. Populasi binatang endemikIndonesia ini hanya ditemukan di hutan tropis dataran rendah pulau Sulawesi khususnya tempat Sulawesi Tengah, yakni di tempat Kabupaten Sigi (Desa Pakuli dan sekitarnya) dan Kabupaten Banggai. Populasi maleo di Sulawesi mengalami penurunan sebesar 90% sejak tahun 1950-an. Berdasarkan pantauan di Tanjung Matop, Tolitoli,Sulawesi Tengah, jumlah populasi dari maleo terus berkurang dari tahun ke tahun sebab dikonsumsi dan juga telur-telur yang terus diburu oleh warga. Maleo bersarang di tempat pasir yang terbuka, tempat sekitar pantai gunung berapi dan daerah-daerah yang hangat dari geothermal untuk menetaskan telurnya yang berukuran besar, mencapai lima kali lebih besar dari telur ayam. Setelah menetas, anak Maleo menggali jalan keluar dari dalam tanah dan bersembunyi ke dalam hutan. Berbeda dengan anak unggas pada umumnya yang pada sayapnya masih berupa bulu-bulu halus, kemampuan sayap pada anak maleo sudah ibarat unggas dewasa, sehingga ia bisa terbang, hal ini dikarenakan nutrisi yang terkandung di dalam telur maleo lima kali lipat dari telur biasa, anak maleo harus mencari makan sendiri dan menghindari binatang pemangsa, ibarat ular, kadal, kucing, babi hutan dan burung elang.









Ikan Bulalao Hewan Khas Gorontalo

January 04, 2019
IKAN BULALAO (Liza dussumieri) KHAS GORONTALO


Ikan Bulalao (Liza dussumieri) yakni spesies ikan berhabitat di air laut. Ikan ini seolah-olah dengan ikan Belanak (Valamugil seheli) yang merupakan kerabat satu familia, yaitu Mugilidae. Ikan ini berbentuk kecil memanjang. Ikan Bulalao banyak ditemukan di daerah Samudra Pasifik. Alternatif kata bahasa Inggris untuk ikan Bulalao adalahdussumier mullet.




Gambar. Ikan Bulalo Khas Gorontalo


Tangkasi Hewan Khas Sulawesi Utara

January 04, 2019
TANGKASI (Tarsius tarsier) KHAS SULAWESI UTARA


Tangkasi atau yang bahasa ilmiahnya Tarsius tarsier (Binatang Hantu/Kera Hantu/Monyet Hantu) ialah suatu jenis primata kecil, mempunyai badan berwarna coklat kemerahan dengan warna kulit kelabu, bermata besar dengan pendengaran menghadap ke depan dan mempunyai bentuk yang lebar. Nama Tarsius diambil lantaran ciri fisik badan mereka yang istimewa, yaitu tulang tarsal yang memanjang, yang membentuk pergelangan kaki mereka sehingga mereka sanggup melompat sejauh 3 meter (hampir 10 kaki) dari satu pohon ke pohon lainnya. Tarsius juga mempunyai ekor panjang yang tidak berbulu, kecuali pada bab ujungnya. Setiap tangan dan kaki binatang ini mempunyai lima jari yang panjang. Jari-jari ini mempunyai kuku, kecuali jari kedua dan ketiga yang mempunyai cakar yang dipakai untuk grooming. Yang paling istimewa dari Tarsius ialah matanya yang besar. Ukuran matanya lebih besar kalau dibandingkan besar otaknya sendiri. Mata ini sanggup dipakai untuk melihat dengan tajam dalam kegelapan tetapi sebaliknya, binatang ini hampir tidak sanggup melihat pada siang hari. Kepala Tarsius sanggup memutar hampir 180 derajat baik ke arah kanan maupun ke arah kiri, ibarat burung hantu. Telinga mereka juga sanggup digerakkan untuk mendeteksi keberadaan mangsa. Tarsius ialah makhluk nokturnal yang melaksanakan acara pada malam hari dan tidur pada siang hari. Oleh lantaran itu Tarsius berburu pada malam hari. Mangsa mereka yang paling utama ialah serangga ibarat kecoa, jangkrik, dan kadang kala reptil kecil, burung, dan kelelawar. Habitatnya ialah di hutan-hutan Sulawesi Utara hinggaSulawesi Selatan, juga di pulau-pulau sekitar Sulawesi ibarat Suwu, Selayar, danPeleng. Tarsius juga sanggup ditemukan di Filipina. Di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, Tarsius lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan "balao cengke" atau "tikus jongkok" kalau diartikan kedalam Bahasa Indonesia. Tarsius menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon. Hewan ini menandai pohon tempat teritori mereka dengan urine. Tarsius berpindah tempat dengan cara melompat dari pohon ke pohon. Hewan ini bahkan tidur dan melahirkan dengan terus bergantung pada batang pohon. Tarsius tidak sanggup berjalan di atas tanah, mereka melompat saat berada di tanah.



Gambar. TANGKASI BINATANG KHAS SULAWESI UTARA

Binatang Khas Maluku Utara Bidadari Halmahera (Semioptera Wallacii)

January 04, 2019
BIDADARI HALMAHERA (Semioptera wallacii) KHAS MALUKU UTARA


Burung Bidadari halmahera, Semioptera wallacii yaitu jenis cendrawasihberukuran sedang, sekitar 28 cm, berwarna cokelat-zaitun. Cendrawasih ini merupakan satu-satunya anggota genus Semioptera. Burung jantan bermahkota warna ungu dan ungu-pucat mengkilat dan warna pelindung dadanya hijau zamrud. Cirinya yang paling mencolok yaitu dua pasang bulu putih yang panjang yang keluar menekuk dari sayapnya dan bulu itu sanggup ditegakkan atau diturunkan sesuai harapan burung ini. Burung betinanya yang kurang menarik berwarna cokelat zaitun dan berukuran lebih kecil serta punya ekor lebih panjang dibandingkan burung jantan. George Robert Graydari Museum Inggris menamai jenis ini untuk menghormati Alfred Russel Wallace, seorang naturalis Inggris dan pengarang buku The Malay Archipelago, orang Eropa pertama yang menemukan burung ini pada tahun 1858. Burung Bidadari halmahera yaitu burung endemik kepulauan Maluku dan merupakan jenis burung cenderawasih sejati yang tersebar paling barat. Makanannya terdiri dari serangga, artropoda, dan buah-buahan. Burung jantan bersifat poligami. Mereka berkumpul dan menampilkan tarian udara yang indah, meluncur dengan sayapnya dan membuatkan bulu pelindung dadanya yang berwarna hijau mencolok sementara bulu putih panjangnya di punggungnya dikibar-kibarkan. Karena umum ditemukan di rentang habitatnya yang terbatas, burung Bidadari Halmahera dievaluasi beresiko rendah di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix II.


Gambar. BIDADARI HALMAHERA (Semioptera wallacii) KHAS MALUKU UTARA