Showing posts with label Ayam. Show all posts
Showing posts with label Ayam. Show all posts

Ayam Bekisar (Gallus Varius) Khas Jawa Timur

January 05, 2019
AYAM BEKISAR (Gallus varius) KHAS JAWA TIMUR

Ayam bekisar atau ayam hutan hijau (bahasa Latin = Gallus varius) yaitu nama sejenis burung yang termasuk kelompok unggas dari suku Phasianidae, yakni keluarga ayam, puyuh, merak, dan sempidan. Ayam hutan diyakini sebagai nenek moyang sebagian ayam peliharaan yang ada di Nusantara. Ayam ini disebut dengan banyak sekali nama di banyak sekali tempat, menyerupai canghegar atau cangehgar (Sd.), ayam alas(Jw.), ajem allas atau tarattah (Md.). Memiliki nama ilmiah Gallus varius (Shaw, 1798), ayam ini dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Green Junglefowl, Javan Junglefowl,Forktail, atau Green Javanese Junglefowl, merujuk pada warna dan asal tempatnya. Ayam yang menyukai kawasan terbuka dan berpadang rumput, tepi hutan dan kawasan dengan bukit-bukit rendah bersahabat pantai. Ayam-hutan Hijau diketahui menyebar terbatas di Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara termasuk Bali. Di Jawa Barat tercatat hidup sampai ketinggian 1.500 m diatas permukaan laut, di Jawa Timur sampai 3.000 m diatas permukaan bahari dan di Lombok sampai 2.400 m diatas permukaan laut. Pagi dan sore ayam ini biasa mencari masakan di tempat-tempat terbuka dan berumput, sedangkan pada siang hari yang terik berlindung di bawah naungan tajuk hutan. Ayam-hutan Hijau memakan aneka biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, aneka serangga, serta banyak sekali jenis binatang kecil menyerupai laba-laba, cacing, kodok dan kadal kecil. Ayam ini kerap terlihat dalam kelompok, 2-7 ekor atau lebih, mencari masakan di rerumputan di bersahabat kumpulan ungulata besar menyerupai kerbau, sapi atau banteng. Selain memburu serangga yang terusik oleh hewan-hewan besar itu, Ayam-hutan Hijau diketahui bahagia membongkar dan mengais-ngais kotoran herbivora tersebut untuk mencari biji-bijian yang belum tercerna, atau serangga yang memakan kotoran itu. Pada malam hari, kelompok ayam hutan ini tidur tak berjauhan di rumpun bambu, perdu-perduan, atau daun-daun palem hutan pada ketinggian 1,5-4 m di atas tanah. Ayam hutan hijau berbiak antara bulan Oktober-Nopember di Jawa Barat dan sekitar Maret-Juli di Jawa Timur. Sarang dibentuk secara sederhana di atas tanah berlapis rumput, dalam lindungan semak atau rumput tinggi. Telur 3-4 butir berwarna keputih-putihan. Tak menyerupai keturunannya ayam kampung, Ayam-hutan Hijau berakal terbang. Anak ayam hutan ini telah bisa terbang menghindari ancaman dalam beberapa ahad saja. Ayam yang cukup umur bisa terbang seketika dan vertikal ke cabang pohon di dekatnya pada ketinggian 7 m atau lebih. Terbang mendatar, Ayam hutan Hijau bisa terbang lurus sampai beberapa ratus meter; bahkan diyakini bisa terbang dari pulau ke pulau yang berdekatan melintasi laut. Ayam hutan hijau yaitu kerabat bersahabat leluhur ayam peliharaan, ayam hutan merah (Gallus gallus). Ayam hutan merah yang menyebar luas mulai dari Himalaya, Tiongkok selatan, Asia Tenggara, sampai ke Sumatra dan Jawa. Pada pihak lain, ayam-hutan hijau tersebar di Jawa, Bali dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya. Ayam hutan dari Jawa Timur dikenal sebagai sumber tetua untuk menghasilkanayam bekisar. Bekisar yaitu persilangan antara ayam hutan hijau dengan ayam kampung. Bekisar dikembangkan orang untuk menghasilkan ayam hias yang indah bulunya, dan terutama untuk mendapat ayam dengan kokok yang khas. Karena suaranya, ayam bekisar sanggup mencapai harga yang sangat mahal. Bekisar juga menjadi lambang fauna kawasan Jawa Timur.
Gambar. AYAM BEKISAR (Gallus varius)

Panduan Lengkap Budidaya Ayam Petelur

January 01, 2019
BUDIDAYA AYAM PETELUR
(Gallus sp.)



1. SEJARAH SINGKAT

Ayam petelur ialah ayam-ayam betina arif balig cukup akal yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Asal mula ayam unggas ialah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta sanggup bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, lantaran ayam hutan tadi sanggup diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup usang hingga menghasilkan ayam petelur menyerupai yang ada kini ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat buruk dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul.

Menginjak awal tahun 1900-an, ayam liar itu tetap pada tempatnya dekat dengan contoh kehidupan masyarakat dipedesaan. Memasuki periode 1940-an, orang mulai mengenal ayam lain selain ayam liar itu. Dari sini, orang mulai membedakan antara ayam orang Belanda (Bangsa Belanda ketika itu menjajah Indonesia) dengan ayam liar di Indonesia. Ayam liar ini kemudian dinamakan ayam lokal yang kemudian disebut ayam kampung lantaran keberadaan ayam itu memang di pedesaan. Sementara ayam orang Belanda disebut dengan ayam luar negeri yang kemudian lebih dekat dengan sebutan ayam negeri (kala itu masih merupakan ayam negeri galur murni). Ayam semacam ini masih bisa dijumpai di tahun 1950-an yang dipelihara oleh beberapa orang penggemar ayam. Hingga final periode 1980-an, orang Indonesia tidak banyak mengenal pembagian terstruktur mengenai ayam. Ketika itu, sifat ayam dianggap menyerupai ayam kampung saja, bila telurnya lezat dimakan maka dagingnya juga lezat dimakan. Namun, pendapat itu ternyata tidak benar, ayam negeri/ayam ras ini ternyata bertelur banyak tetapi tidak lezat dagingnya.

Ayam yang pertama masuk dan mulai diternakkan pada periode ini ialah ayam ras petelur white leghorn yang kurus dan umumnya sesudah habis masa produktifnya. Antipati orang terhadap daging ayam ras cukup usang hingga
menjelang final periode 1990-an. Ketika itu mulai merebak peternakan ayam broiler yang memang khusus untuk daging, sementara ayam petelur dwiguna/ayam petelur cokelat mulai menjamur pula. Disinilah masyarakat mulai sadar bahwa ayam ras mempunyai pembagian terstruktur mengenai sebagai petelur handal dan pedaging yang enak. Mulai terjadi pula persaingan tajam antara telur dan daging ayam ras dengan telur dan daging ayam kampung. Sementara itu telur ayam ras cokelat mulai diatas angin, sedangkan telur ayam kampung mulai terpuruk pada penggunaan resep masakan tradisional saja. Persaingan inilah pertanda maraknya peternakan ayam petelur.

Ayam kampung memang bertelur dan dagingnya memang bertelur dan dagingnya sanggup dimakan, tetapi tidak sanggup diklasifikasikan sebagai ayam dwiguna secara komersial-unggul. Penyebabnya, dasar genetis antara ayam kampung dan ayam ras petelur dwiguna ini memang berbeda jauh. Ayam kampung dengan kemampuan pembiasaan yang luar biasa baiknya. Sehingga ayam kampung sanggup mengantisipasi perubahan iklim dengan baik dibandingkan ayam ras. Hanya kemampuan genetisnya yang membedakan produksi kedua ayam ini. Walaupun ayam ras itu juga berasal dari ayam liar diAsia dan Afrika.

2. SENTRA PETERNAKAN

Ayam telah dikembangkan sangat pesat di setiapa negara. Sentra peternakan ayam petelur sudah dijumpai di seluruh pelosok Indonesia terutama ada di Pulau Jawa dan Sumatera, tetapi peternakan ayam telah menyebar di Asia dan Afrika serta sebagian Eropa.


3. J E N I S

Jenis ayam petelur dibagi menjadi dua tipe:

1) Tipe Ayam Petelur Ringan.
Tipe ayam ini disebut dengan ayam petelur putih. Ayam petelur ringan ini mempunyai tubuh yang ramping/kurus-mungil/kecil dan mata bersinar. Bulunya berwarna putih higienis dan berjengger merah. Ayam ini berasal dari galur murni white leghorn. Ayam galur ini sulit dicari, tapi ayam petelur ringan komersial banyak dijual di Indonesia dengan banyak sekali nama. Setiap pembibit ayam petelur di Indonesia niscaya mempunyai dan menjual ayam petelur ringan (petelur putih) komersial ini. Ayam ini bisa bertelur lebih dari 260 telur per tahun produksi hen house. Sebagai petelur, ayam tipe ini memang khusus untuk bertelur saja sehingga semua kemampuan dirinya diarahkan pada kemampuan bertelur, lantaran dagingnya hanya sedikit. Ayam petelur ringan ini sensitif terhadapa cuaca panas dan keributan, dan ayam ini gampang kaget dan bila kaget ayam ini produksinya akan cepat turun, begitu juga bila kepanasan.

2) Tipe Ayam Petelur Medium.
Bobot tubuh ayam ini cukup berat. Meskipun itu, beratnya masih berada di antara berat ayam petelur ringan dan ayam broiler. Oleh lantaran itu ayam ini disebut tipe ayam petelur medium. Tubuh ayam ini tidak kurus, tetapi juga tidak terlihat gemuk. Telurnya cukup banyak dan juga sanggup menghasilkan daging yang banyak. Ayam ini disebut juga dengan ayam tipe dwiguna. Karena warnanya yang cokelat, maka ayam ini disebut dengan ayam petelur cokelat yang umumnya mempunyai warna bulu yang cokelat juga. Dipasaran orang menyampaikan telur cokelat lebih disukai daripada telur putih, kalau dilihat dari warna kulitnya memang lebih menarik yang cokelat daripada yang putih, tapi dari segi gizi dan rasa relatif sama. Satu hal yang berbeda ialah harganya dipasaran, harga telur cokelat lebih mahal daripada telur putih. Hal ini dikarenakan telur cokelat lebih berat daripada telur putih dan produksinya telur cokelat lebih sedikit daripada telur putih. Selain itu daging dari ayam petelur medium akan lebih laris dijual sebagai ayam pedaging dengan rasa yang enak.


4. MANFAAT

Ayam-ayam petelur unggul yang ada sangat baik digunakan sebagai plasma nutfah untuk menghasilkan bibit yang bermutu. Hasil kotoran dan limbah dari pemotongan ayam petelur merupakan hasil samping yang sanggup diolah menjadi pupuk kandang, kompos atau sumber energi (biogas). Sedangkan menyerupai usus dan jeroan ayam sanggup dijadikan sebagai pakan ternak unggas sesudah dikeringkan. Selain itu ayam dimanfaatkan juga dalam upacara keagamaan.


5. PERSYARATAN LOKASI

1) Lokasi yang jauh dari keramaian/perumahan penduduk.
2) Lokasi gampang dijangkau dari pusat-pusat pemasaran.
3) Lokasi terpilih bersifat menetap, tidak berpindah-pindah.


6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Sebelum perjuangan beternak dimulai, seorang peternak wajib memahami 3 (tiga) unsur produksi yaitu: administrasi (pengelolaan perjuangan peternakan), breeding (pembibitan) dan feeding (makanan ternak/pakan)

6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Kandang
Iklim sangkar yang cocok untuk beternak ayam petelur mencakup persyaratan temperatur berkisar antara 32,2–35 derajat C, kelembaban berkisar antara 60–70%, penerangan dan atau pemanasan sangkar sesuai dengan hukum yang ada, tata letak sangkar semoga menerima sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin puting-beliung serta sirkulasi udara yang baik, jangan membuat sangkar dengan permukaan lahan yang berbukit lantaran menghalangi sirkulasi udara dan membahayakan anutan air permukaan bila turun hujan, sebaiknya sangkar dibangun dengan sistem terbuka semoga hembusan angin cukup memperlihatkan kesejukan di dalam kandang.

Untuk kontruksi sangkar tidak harus dengan materi yang mahal, yang penting kuat, higienis dan tahan lama. Selanjutnya perlengkapan sangkar hendaknya disediakan selengkap mungkin menyerupai tempat pakan, tempat minum, tempat air, tempat ransum, tempat obat-obatan dan sistem alat penerangan.

Bentuk-bentuk sangkar menurut sistemnya dibagi menjadi dua: a) Sistem sangkar koloni, satu sangkar untuk banyak ayam yang terdiri dari ribuan ekor ayam petelur; b) Sistem sangkar individual, sangkar ini lebih dikenal dengan sebutan cage. Ciri dari sangkar ini ialah efek individu di dalam sangkar tersebut menjadi mayoritas lantaran satu kotak sangkar untuk satu ekor ayam. Kandang sistem ini banyak digunakan dalam peternakan ayam petelur komersial.

Jenis sangkar menurut lantainya dibagi menjadi tiga macam yaitu: 1) sangkar dengan lantai liter, sangkar ini dibentuk dengan lantai yang dilapisi kulit padi, pesak/sekam padi dan sangkar ini umumnya diterapkan pada sangkar sistem koloni; 2) sangkar dengan lantai kolong berlubang, lantai untuk sistem ini terdiri dari bantu atau kayu kaso dengan lubang-lubang diantaranya, yang nantinya untuk membuang tinja ayam dan eksklusif ke tempat penampungan; 3) sangkar dengan lantai adonan liter dengan kolong berlubang, dengan perbandingan 40% luas lantai sangkar untuk bantalan liter dan 60% luas lantai dengan kolong berlubang (terdiri dari 30% di kanan dan 30% di kiri).
Peralatan

a. Litter (alas lantai)
Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap yang bocor dan air hujan tidak ada yang masuk walau angin kencang. Tebal litter setinggi 10 cm, materi litter digunakan adonan dari kulit padi/sekam dengan sedikit kapur dan pasir secukupnya, atau hasi serutan kayu dengan panjang antara 3–5 cm untuk pengganti kulit padi/sekam.

b. Tempat bertelur
Penyediaan tempat bertelur semoga gampang mengambil telur dan kulit telur tidak kotor, sanggup dibuatkan kotak ukuran 30 x 35 x 45 cm yang cukup untuk 4–5 ekor ayam. Kotak diletakkan dididing sangkar dengan lebih tinggi dari tempat bertengger, penempatannya semoga gampang pengambilan telur dari luar sehingga telur tidak pecah dan terinjak-injak serta dimakan. Dasar tempat bertelur dibentuk miring dari kawat hingga telur eksklusif ke luar sarang sesudah bertelur dan dibentuk lubah yang lebih besar dari besar telur pada dasar sarang.

c. Tempat bertengger
Tempat bertengger untuk tempat istirahat/tidur, dibentuk dekat dinding dan diusahakan kotoran jatuh ke lantai yang gampang dibersihkan dari luar. Dibuat tertutup semoga terhindar dari angin dan letaknya lebih rendah dari tempat bertelur.
d. Tempat makan, minum dan tempat grit
Tempat makan dan minum harus tersedia cukup, bahannya dari bambu, almunium atau apa saja yang berpengaruh dan tidak bocor juga tidak berkarat. Untuk tempat grit dengan kotak khusus

6.2. Peyiapan Bibit
Ayam petelur yang akan dipelihara haruslah memenuhi syarat sebagai berikut, antara lain:
a) Ayam petelur harus sehat dan tidak cacat fisiknya.
b) Pertumbuhan dan perkembangan normal.
c) Ayam petelur berasal dari bibit yang diketahui keunggulannya.

Ada beberapa pedoman teknis untuk menentukan bibit/DOC (Day Old Chicken) /ayam umur sehari:
a) Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yang sehat.
b) Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya .
c) Tidak terdapat keanehan pada tubuhnya.
d) Anak ayam mempunyak nafsu makan yang baik.
e) Ukuran tubuh normal, ukuran berat tubuh antara 35-40 gram.
f) Tidak ada letakan tinja diduburnya.
1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Penyiapan bibit ayam petelur yang berkreteria baik dalam hal ini tergantung sebagai berikut:

a. Konversi Ransum.
Konversi ransum merupakan perabandingan antara ransum yang dihabiskan ayam dalam menghasilkan sejumlah telur. Keadaan ini sering disebut dengan ransum per kilogram telur. Ayam yang baik akan makan sejumlah ransum dan menghasilkan telur yang lebih banyak/lebih besar daripada sejumlah ransum yang dimakannya.
Bila ayam itu makan terlalu banyak dan bertelur sedikit maka hal ini merupakan cermin buruk bagi ayam itu. Bila bibit ayam mempunyai konversi yang kecil maka bibit itu sanggup dipilih, nilai konversi ini dikemukakan berikut ini pada banyak sekali bibit ayam dan juga sanggup diketahui dari lembaran daging yang sering dibagikan pembibit kepada peternak dalam setiap promosi penjualan bibit ayamnya.

b. Produksi Telur.
Produksi telur sudah tentu menjadi perhatian. Dipilih bibit yang sanggup memproduksi telur banyak. Tetapi konversi ransum tetap utama alasannya ialah ayam yang produksi telurnya tinggi tetapi makannya banyak juga tidak menguntungkan.

c. Prestasi bibit dilapangan/dipeternakan.
Apabila kedua hal diatas telah baik maka kemampuan ayam untuk bertelur hanya dalam sebatas kemampuan bibit itu. Contoh prestasi beberapa jenis bibit ayam petelur sanggup dilihat pada data di bawah ini.
- Babcock B-300 v: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 270, ransum 1,82 kg/dosin telur.
- Dekalb Xl-Link: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 255-280, ransum 1,8-2,0 kg/dosin telur.
- Hisex white: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 288, ransum 1,89 gram/dosin telur.
- H & W nick: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 272, ransum 1,7-1,9 kg/dosin telur.
- Hubbarb leghorn: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house)260, ransum 1,8-1,86 kg/dosin telur.
- Ross white: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house) 275, ransum 1,9 kg/dosin telur.
- Shaver S 288: berbulu putih, type ringan, produksi telur(hen house)280, ransum 1,7-1,9 kg/dosin telur.
- Babcock B 380: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 260-275, ransum 1,9 kg/dosin telur.
- Hisex brown: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house)272, ransum 1,98 kg/dosin telur.
- Hubbarb golden cornet: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 260, ransum 1,24-1,3 kg/dosin telur.
- Ross Brown: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 270, ransum 2,0 kg/dosin telur.
- Shaver star cross 579: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 265, ransum 2,0-2,08 kg/dosin telur.
- Warren sex sal link: berbulu cokelat, type Dwiguna, produksi telur(hen house) 280, ransum 2,04 kg/dosin telur.


6.3. Pemeliharaan
Sanitasi dan Tindakan Preventif
Kebersihan lingkungan sangkar (sanitasi) pada areal peternakan merupakan perjuangan pencegahan penyakit yang paling murah, hanya diharapkan tenaga yang ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan memperlihatkan vaksin pada ternak dengan merek dan takaran sesuai catatan pada label yang dari poultry shoup.
Pemberian Pakan
Untuk proteksi pakan ayam petelur ada 2 (dua) fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu).
Kualitas dan kuantitas pakan fase starter ialah sebagai berikut:
- Kwalitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 22-24%, lemak 2,5%, serat berangasan 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%, ME 2800-3500 Kcal.
- Kwantitas pakan terbagi/digolongkan menjadi 4 (empat) golongan yaitu ahad pertama (umur 1-7 hari) 17 gram/hari/ekor; ahad kedua (umur 8-14 hari) 43 gram/hari/ekor; ahad ke-3 (umur 15-21 hari) 66 gram/hari/ekor dan ahad ke-4 (umur 22-29 hari) 91 gram/hari/ekor.
Kaprikornus jumlah pakan yang diharapkan tiap ekor hingga pada umur 4 ahad sebesar 1.520 gram.

Kwalitas dan kwantitas pakan fase finisher ialah sebagai berikut:
- Kwalitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 18,1-21,2%; lemak 2,5%; serat berangasan 4,5%; kalsium (Ca) 1%; Phospor (P) 0,7-0,9% dan energi (ME) 2900-3400 Kcal.
- Kwantitas pakan terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur yaitu: ahad ke-5 (umur 30-36 hari) 111 gram/hari/ekor; ahad ke-6 (umut 37-43 hari) 129 gram/hari/ekor; ahad ke-7 (umur 44-50 hari) 146 gram/hari/ekor dan ahad ke-8 (umur 51-57 hari) 161 gram/hari/ekor. Kaprikornus total jumlah pakan per ekor pada umur 30-57 hari ialah 3.829 gram.

Pemberian minum diubahsuaikan dangan umur ayam, dalam hal ini dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu:
a. Fase starter (umur 1-29 hari) kebutuhan air minum terbagi lagi pada masing-masing minggu, yaitu ahad ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor; ahad ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor; ahad ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan ahad ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor.
Kaprikornus jumlah air minum yang diharapkan hingga umur 4 ahad ialah sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama hendaknya diberi komplemen gula dan obat anti stress kedalam air minumnya. Banyaknya gula yang diberikan ialah 50 gram/liter air.

b. Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masing-masing ahad yaitu ahad ke-5 (30-36 hari) 9,5 lliter/hari/100 ekor; ahad ke-6 (37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor; ahad ke-7 (44-50 hari) 12,7 liter/hari/100 ekor dan ahad ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Kaprikornus total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor.
Pemberian Vaksinasi dan Obat
Vaksinasi merupakan salah satu cara pengendalian penyakit virus yang menulardengan cara membuat kekebalan tubuh. Pemberiannya secara teratur sangat penting untuk mencegah penyakit. Vaksin dibagi menjadi 2 macam yaitu:

Vaksin aktif ialah vaksin mengandung virus hidup. Kekebalan yang ditimbulkan lebih usang daripada dengan vaksin inaktif/pasif.
Vaksin inaktif, ialah vaksin yang mengandung virus yang telah dilemahkan/dimatikan tanpa merubah struktur antigenic, hingga bisa membentuk zat kebal. Kekebalan yang ditimbulkan lebih pendek, manfaatnya disuntikan pada ayam yang diduga sakit.
Macam-macam vaksin:
a) Vaksin NCD vrus Lasota buatan Drh Kuryna
b) Vaksin NCD virus Komarov buatan Drh Kuryna (vaksin inaktif)
c) Vaksin NCD HB-1/Pestos.
d) Vaksin Cacar/pox, virus Diftose.
e) Vaksin anti RCD Vaksin Lyomarex untuk Marek.

Persyaratan dalam vaksinasi adalah:
a) Ayam yang divaksinasi harus sehat.
b) Dosis dan kemasan vaksin harus tepat.
c) Sterilisasi alat-alat.
Pemeliharaan Kandang
Agar bangunan sangkar sanggup mempunyai kegunaan secara efektif, maka bangunan sangkar perlu dipelihara secara baik yaitu sangkar selalu dibersihkan dan dijaga/dicek apabila ada penggalan yang rusak supaya segera disulam/diperbaiki kembali. Dengan demikian daya guna sangkar bisa maksimal tanpa mengurangi persyaratan sangkar bagi ternak yang dipelihara.


7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Penyakit
1. Berak putih (pullorum)
Menyerang ayam kampung dengan angka janjkematian yang tinggi.
Penyebab: Salmonella pullorum.
Pengendalian: diobati dengan antibiotika
2. Foel typhoid
Sasaran yang disering ialah ayam muda/remaja dan dewasa.
Penyebab: Salmonella gallinarum.
Gejala: ayam mengeluarkan tinja yang berwarna hijau kekuningan.
Pengendalian: dengan antibiotika/preparat sulfa.
3. Parathyphoid
Menyerang ayam dibawah umur satu bulan.
Penyebab: basil dari genus Salmonella.
Pengendalian: dengan preparat sulfa/obat sejenisnya.
4. Kolera
Penyakit ini jarang menyerang anak ayam atau ayam remaja tetapi selain menyerang ayam menyerang kalkun dan burung merpati.
Penyebab: pasteurella multocida.
Gejala: pada serangan yang serius pial ayam (gelambir dibawah paruh) akan membesar.
Pengendalian: dengan antibiotika (Tetrasiklin/Streptomisin).
5. Pilek ayam (Coryza)
Menyerang semua umur ayam dan terutama menyerang anak ayam.
Penyebab: makhluk intermediet antara basil dan virus.
Gejala: ayam yang terjangkit memperlihatkan gejala menyerupai orang pilek.
Pengendalian: sanggup disembuhkan dengan antibiotia/preparat sulfa.
6. CRD
CRD ialah penyakit pada ayam yang terkenal di Indonesia. Menyerang anak ayam dan ayam remaja. Pengendalian: dilakukan dengan antibiotika (Spiramisin dan Tilosin).
7. Infeksi synovitis
Penyakit ini sering menyerang ayam muda terutama ayam broiler dan kalkun.
Penyebab: basil dari genus Mycoplasma.
Pengendalian: dengan antibiotika.

7.2. Penyakit lantaran Virus
1. Newcastle disease (ND)
ND ialah penyakit oleh virus yang terkenal di peternak ayam Indonesia. Pada awalnya penyakit ditemukan tahun 1926 di kawasan Priangan.Tungau (kutuan) Penemuan tersebut tidak tersebar luas ke seluruh dunia. Kemudian di Eropa, penyakit ini ditemukan lagi dan diberitakan ke seluruh dunia. Akhirnya penyakit ini disebut Newcastle disease.
2. Infeksi bronchitis
Infeksi bronchitis menyerang semua umur ayam. Pada arif balig cukup akal penyakit ini menurunkan produksi telur. Penyakit ini merupakan penyakit pernafasan yang serius untuk anak ayam dan ayam remaja. Tingkat janjkematian ayam arif balig cukup akal ialah rendah, tapi pada anak ayam mencapai 40%. Bila menyerang ayam petelur mengakibatkan telur lembek, kulit telur tidak normal, putih telur encer dan kuning telur gampang berpindah tempat (kuning telur yang normal selalu ada ditengah). Tidak ada pengobatan untuk penyakit ini tetapi sanggup dicegah dengan vaksinasi.
3. Infeksi laryngotracheitis
Infeksi laryngotracheitis merupakan penyakit pernapasan yang serius terjadi pada unggas.
Penyebab: virus yang diindetifikasikan dengan Tarpeia avium. Virus ini di luar gampang dibunuh dengan desinfektan, contohnya karbol.
Pengendalian: (1) belum ada obat untuk mengatasi penyakit ini; (2) pencegahan dilakukan dengan vaksinasi dan sanitasi yang ketat.
4. Cacar ayam (Fowl pox)
Gejala: tubuh ayam penggalan jengger yang terjangkit akan bercak-bercak cacar.
Penyebab: virus Borreliota avium. Pengendalian: dengan vaksinasi.
5. Marek
Penyakit ini menjadi terkenal semenjak tahun 1980-an hingga kini menyerang bangsa unggas, akhir serangannya mengakibatkan janjkematian ayam hingga 50%. Pengendalian: dengan vaksinasi.
6. Gumboro
Penyakit ini ditemukan tahun 1962 oleh Cosgrove di kawasan Delmarva Amerika Serikat. Penyakit ini menyerang bursa fabrisius, khususnya menyerang anak ayam umur 3–6 minggu.

7.3. Penyakit lantaran Jamur dan Toksin
Penyakit ini lantaran ada jamur atau sejenisnya yang merusak makanan. Hasil perusakan ini mengeluarkan zak racun yang kemudian di makan ayam. Ada pula pengolahan materi yang mengakibatkan asam amino berkembang menjadi zat beracun. Beberapa penyakit ini ialah :
1. Muntah darah hitam (Gizzerosin)
Ciri kerusakan total pada gizzard ayam. Penyebab: ialah racun dalam
tepung ikan tetapi tidak semua tepung ikan menimbulkan penyakit ini. Timbul penyakit ini akhir pemanasan materi masakan yang menguraikan asam amino hingg menjadi racun. 
Pengendalian: belum ada.
2. Racun dari bungkil kacang
Minyak yang tinggi dalam bungkil kelapa dan bungkil kacang merangsang pertumbuhan jamur dari grup Aspergillus. Untuk menghindari keracunan bungkil kacang maka dalam rancung tidak digunakan antioksidan atau bungkil kacang dan bungkil kelapa yang mengandung kadar lemak tinggi.

7.4. Penyakit lantaran Parasit
1. Cacing
Karena penyakit cacing jarang ditemukan di peternakan yang higienis dan terpelihara baik. Tetapi peternakan yang kotor banyak siput air dan minuman kotor maka mungkin ayam terjangkit cacingan. Ciri serangan cacingan ialah tubuhnya kurus, bulunya kusam, produksi telur merosot dan kurang aktif.
2. Kutu
Banyak menyerang ayam di peternakan Indonesia. Dari luar kutu tidak terlihat tapi bila bulu ayam disibak akan terlihat kutunya. Tanda fisik ayam terjangkit ayam akan gelisah. Kutu umum terdapat di sangkar yang tidak terkena sinar matahari eksklusif maka sisi samping sangkar diarahkan melintang dari Timur ke Barat. Penggunaan semprotan kutu sama dengan cara penyemprotan nyamuk. Penyemprotan ini dihentikan mengenai tangan dan mata secara eksklusif dan penyemprotan dilakukan malam hari sehingga pelaksanaannya lebih gampang lantaran ayam tidak aktif.

7.5. Penyakit lantaran Protoza
Penyakit ini berasal dari protozoa (trichomoniasis, Hexamitiasis dan Blachead), penyakit ini dimasukkan ke golongan benalu tetapi sebetulnya berbeda. Penyakit ini jarang menyerang ayam lingkungan peternakan dijaga kebersihan dari alang-alang dan genangan air.


8. P A N E N
8.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya ayam petelur ialah berupa telur yang diahsilkan oelh ayam. Sebaiknya telur dipanen 3 kali dalam sehari. Hal ini bertujuan semoga kerusakan isi tlur yang disebabkan oleh virus sanggup terhindar/terkurangi. Pengambilan pertama pada pagi hari antara pukul 10.00-11.00; pengambilan kedua pukul 13.00-14.00; pengambilan ketiga (terakhir)sambil mengecek seluruh sangkar dilakukan pada pukul 15.00-16.00.
8.2. Hasil Tambahan
Hasil komplemen yang sanggup dinukmati dari hasil budidaya ayam petelur ialah daging dari ayam yang telah renta (afkir) dan kotoran yang sanggup dijual untuk dijadikan pupuk kandang.
8.3. Pengumpulan
Telur yang telah dihasilkan diambil dan diletakkan di atas egg tray (nampan telur). Dalam pengambilan dan pengumpulan telur, petugas pengambil harus eksklusif memisahkan antara telur yang normal dengan yang abnormal. Telur normal ialah telur yang oval, higienis dan kulitnya mulus serta beratnya 57,6 gram dengan volume sebesar 63 cc. Telur yang aneh contohnya telurnya kecil atau terlalu besar, kulitnya retak atau keriting, bentuknya lonjong.
8.4. Pembersihan
Setelah telur dikumpulkan, selanjutnya telur yang kotor lantaran terkena litter atau tinja ayam dibershkan. Telur yang terkena litter sanggup dibersihkan dengan amplas besi yang halus, dicuci secara khusus atau dengan cairan pembersih. Biasanya pencucian dilakukan untuk telur tetas.


9. PASCA PANEN
---

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

10.1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya ayam petelur buras (150 ekor) tahun 1998 di Bintaro, Jakarta.

1) Biaya produksi
a. Modal tetap (investasi)
- Kandang dan atap
- Induk 150 ekor @ Rp. 17.500,-
Jumlah biaya modal tetap 
Rp. 225.000,-
Rp. 2.626.000,-
Rp. 2.850.000,-

b. Modal kerja/variabel
- Pakan 90 gr x 150 x Rp. 1.210,-/kg x 30
- Penyusutan sangkar (4tahun)
- Penyusutan induk (umur produktif 2 tahun)
- Obat-obatan
- Resiko janjkematian 3% per tahun 
Rp. 490.000,-
Rp. 4.700,-
Rp. 109.375,-
Rp. 1.000,-
Rp. 6.565,-
Jumlah biaya modal kerja Rp. 611.640,-
Jumlah biaya prasarana produksi Rp. 611.640,-

2) Pendapatan
a. Telur 60 x Rp. 650,- x 30 Rp. 1.170.000,-
b. Ayam afkir 141 ekor x Rp. 10.000,- Rp. 58.750,-
Jumlah pendapatan Rp. 1.228.750,-

3) Keuntungan
a. Rp. 1228.750,- – Rp. 611.640,- = Rp. 617.110,-

4) Parameter kelayakan usaha
a. B/C ratio = 2,0

Keterangan :
- Perhitungan biaya dan pendapatan dilakukan dalam 1 bulan
- Harga-harga diperhitungkan pada bulan November 1998
- Diperlukan luas tanah 40 m2
10.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Dewasa ini kebutuhan telur dalam negeri terus meningkat sejalan dengan peningkatan contoh hidup insan dalam meningkatkan kebutuhan akan protein hewani yang berasal dari telur. Selain itu juga adanya kegiatan pemerintah dalam meningkatkan gizi masyarakat terutama anak-anak. Kebutuhan akan telur yang terus meningkat tidak diimbangi dengan produksi telur yang besar sehingga terjadilah kekurangan persediaan telur yang menjadikan harga telur mahal.

Dengan melihat kondisi tersebut budidaya ayam petelur sanggup memperlihatkan laba yang menjanjikan bila di kelola secara intensif dan terpadu.


11. DAFTAR PUSTAKA
1. Muhammad Rasyaf, Dr.,Ir. Beternak Ayam Pedaging. Penerbit Penebar Swadaya (anggota IKAPI) Jakarta.
2. Cahyono, Bambang, Ir.1995. Cara Meningkatkan Budidaya Ayam Ras Pedaging (Broiler). Penerbit Pustaka Nusatama Yogyakarta.

12. KONTAK HUBUNGAN
1. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
2. Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166 69, Fax. +62 21 310 1952, 

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas

Waspadai Penyakit Ayam Animo Hujan

December 31, 2018
WASPADAI PENYAKIT MUSIM HUJAN

Musim hujan sudah mulai terjadi dibeberapa daerah, kondisi yang sebelumnya panas akhir kemarau panjang bermetamorfosis hambar akhir hujan deras yang tidak kunjung reda. Akibatnya kita lihat terjadi longsor di beberapa kawasan dan yang terparah ada di Banjarnegara- Jawa Tengah. Menghadapi kondisi isu terkini hujan yang menyerupai ini, peternak ayam harus siap mengantisipasi biar tingginya kelembaban dan kurangnya intensitas sinar matahari tidak membawa imbas negatif bagi produktivitas dan kesehatan ternak ayam mereka. Mewaspadai dan bersiaga yakni cara terbaik yang seharusnya dilakukan biar tidak melahirkan duduk kasus serius yang semestinya sanggup dicegah.

Atas dasar pengalaman para peternak, selama ini kalau isu terkini hujan datang, maka outbreak penyakit di peternakan pun akan lebih sering muncul. Hal ini tidak lain lantaran isu terkini hujan secara tidak pribadi berperan dalam berbagi bibit penyakit ke peternakan. Penyebaran bibit penyakit ini sanggup melalui litter, feses maupun air minum ayam yang terkotori bibit penyakit.

Salah satu penyakit yang menjadi “langganan” ialah penyakit gangguan pencernaan. Terdapat tiga jenis penyakit yang biasa menyerang jalan masuk atau organ pencernaan ayam, yaitu Koksidiosis, necrotic enteritis (NE), dan kolera. Di lapangan, jumlah kejadian penyakit ini cukup banyak bermunculan. Beberapa masalah juga bersifat oportunis. Maksudnya, secara normal mikroorganisme penyebabnya ada di dalam usus dalam jumlah yang terkendali. Tetapi pada ketika kondisi ayam menurun, akhir stres atau sakit misalnya, mikroorganisme tadi berkembang dan menjadi patogen (mengganas).


Koksidiosis & Necrotic Enteritis

Koksidiosis dan necrotic enteritis (NE) merupakan penyakit yang sama-sama mengakibatkan kerusakan di jalan masuk percernaan, terutama di usus. Tidak sedikit kita sering dikecohkan oleh kedua penyakit tersebut. Identifikasi secara seksama dan teliti menjadi solusi dalam mengindentifikasi kedua penyakit ini.

Koksidiosis atau berak darah merupakan penyakit benalu yang disebabkan oleh salah satu endoparasit, yaitu protozoa (bersel tunggal) dari genus Eimeria sp. Agen penyakit ini berbeda dengan distributor penyakit lainnya, baik kuman maupun virus terutama dalam tahapan perkembangannya dimana Eimeria sp. mempunyai beberapa fase perkembangan. Sedangkan Necrotic neteritis yakni penyakit bakterial yang bersifat sporadik pada ayam yang disebabkan infeksi Clostridium perfringens tipe A maupun C. Di lapangan sering kali ditemukan adanya serangan koksidiosis yang menstimulasi serangan necrotic enteritis. Hal tersebut terjadi lantaran ketika serangan koksidia terjadi perdarahan dan kerusakan jaringan pada ileum (usus halus) yang memicu terbentuknya kolonisasi kuman anaerob, yaitu Clostridium perfringens. Adanya kolonisasi kuman anaerob itu akan berlanjut dengan serangan necrotic enteritis.

Kolera

Penyakit ini sudah banyak dikenal oleh para peternak lantaran tingkat kerugian yang ditimbulkan cukup besar serta kejadiannya yang cukup sering terjadi. Penularan penyakit terjadi secara horisontal yaitu ayam sehat tertular dengan ayam sakit melalui peralatan kandang, kotoran binatang maupun oleh pekerjanya sendiri. Tikus, insekta (terutama lalat) dan burung liar juga berperan dalam penyebarannya. Bakteri menginfeksi ke dalam tubuh melalui jalan masuk pernapasan dan melalui konjungtiva ataupun luka pada permukaan jaringan. Hampir semua unggas yang sembuh akan bersifat carrier.

Setelah terjadi masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh, maka ayam akan mengalami bacterimia (keadaan dimana kuman sudah beredar ke seluruh pembuluh darah) tahap awal.Waktu mulai masuknya bibit penyakit sampai menjadikan tanda-tanda klinis berlangsung selama 4-9. Dalam tahapan bacterimia ini ayam akan mengambarkan tanda-tanda menyerupai :
Penurunan nafsu makan
Ayam tampak lesu dan mengantuk
Demam yang ditandai dengan kloaka kering dan peningkatan suhu tubuh mencapai 2-3oC
Saat kontrol pada malam hari, terkadang akan terdengar bunyi ngorok disertai sedikit getaran lantaran adanya lendir

Gejala yang timbul akhir serangan kolera ini terbagi atas 3 yaitu tanda-tanda perkaut, akut dan kronis.

1. Kolera Perakut

Pada bentuk perakut, ayam tiba-tiba mati tanpa ditandai adanya gangguan/gejala klinik sebelumnya kejadian ini bersifat eksplosif

2. Kolera Akut
Gejala Kolera akut ditemukan pada beberapa jam sebelum terjadi kematian. Gejala yang tampak yakni penurunan nafsu makan, bulu mengalami kerontokan, diare yang awalnya encer kekuningan, lama-kelamaan akan berwarna kehijauan disertai lendir, peningkatan frekuensi pernapasan, kawasan muka, jengger dan pial membesar.
Pial dan jengger membengkak dan berisi masa mengkeju
Kematian sanggup berkisar antara 0-20%. Selain itu, kejadian penyakit ini sanggup mengakibatkan penurunan produksi telur dan penurunan berat badan. Kerugian yang lain yakni meningkatnya biaya pengobatan.

3. Kolera kronis

Pada bentuk kronis, dimana penyakit berlangsung usang (berminggu-minggu sampai berbulan-bulan) dengan virulensi kuman rendah. Gejala yang nampak sehubungan dengan adanya infeksi lokal pada pial, sendi kaki, sayap dan basal otak. Gejala yang terlihat biasanya terjadinya pembengkakkan pada pial, infeksi pada kaki.

Sebgaimana kata pepatah, mencegah lebih baik dari pada mengobati.

Jangan Lalai Di Periode Awal (Starter) Pemeliharaan

December 31, 2018
JANGAN LALAI DI MASA AWAL (STARTER) PEMELIHARAAN
 
Bagi para peternak senior pastinya sudah mengetahui hal ini, bahwa masa aal pemeliharaan ayam sangat memilih keberhasilan prose produksi pada tamat pemeliharaan. Akan tetapi, bagi peternak pemula justru sebaliknya, banyak yang mengabaikan masa awal pemeliharaan dan mulai fokus pada ayamnya dikala tamat masa pemeliharaan dengan berburu multivitamin untuk meningkatkan performa produksi ayamnya. Hal ini keliru, sebaik apapun mereka berusaha maka kesannya tidak akan maksimal.
 
Para peternak sekalian, sebagaimana kita ketahui, bahwa masa 0-14 hari ialah masa pembelahan sel. Kaprikornus sel-sel yang ada didalam tubuh ayam akan membelah menjadi bagian-bagian yang nantinya sehabis umur 14 hari sel-sel tersebut akan mengalami pembesaran. Jika kita tidak fokus untuk memaksimalkan proses pembelahan sel maka yang terjadi ialah sel-sel tersebut tidak akan membelah dengan masimal. Akibatnya ayam akan sulit mencapai berat tubuh yang idela dan akan cenderung boros pakan alasannya ialah sel yang membesar ada batasannya. Untuk lebih memudahkan mari kita sedikit berimajnasi. Bayangkan sel ialah sebuah balon dan ayam ialah sebuah keranjang. Bayangkan ada dua buah keranjang (keranjang A dan keranjang B). Keranjang A diisi dengan 10 buah balon dan keranjang B diisi dengan 5 buah balon. Kemudian masing-masing balon pada keranjang A dan B diisi air yang sama banyaknya. Setelah itu ditimbang untuk mengetahui mana yang paling berat. Nah, pastilah keranjang A alasannya ialah ia memiliki lebih banyak balon yang sanggup diisi. Hal tersebut juga sama dengan ayam yang mengalami pembelahan sel yang maksimal maka akan semakin banyak sel-sel yang membesar.

Jadi, kalau selama ini anda merugi dalam beternak beternak, coba periksa administrasi pemeliharaan dimasa awal…, alasannya ialah kalau masa awal ini tidak maksimal maka bukan hanya ayam yang lambat pertumbuhannnya tetapi ayampun akan rentan terkena penyakit dan tentunya kalau hal ini terjadi maka resiko kerugian tidak sanggup dihindari. Oleh alasannya ialah itu, kalau Anda memiliki anggaran untuk membeli multivitamin, belilah semenjak masa awal pemeliharaan. Untuk itu kami memiliki improlin-G dan Imunose. Improlin-G berfungsi untuk memaksimalkan proses pembelahan dan perkembangan sel sedangkan Immunose berfungsi untuk menigkatkan kekebalan tubuh ayam sehingga tidak gampang sakit. Improlin-G diberikan setiap hari sedangkan Immunose diberikan tiap 3 hari. Kebutuhan tiap 2000 ekor broiler mulai DOC –Panen ialah 6 botol Improlin-G dan 1 botol Immunose.

Proyeksi Kasus Penyakit Pada Broiler Maupun Layer 2015

December 30, 2018
PROYEKSI KASUS PENYAKIT 2015

Para peternak sekalian, tahun 2014 telah kita lalui dengan banyak sekali problematika yang ada di dalamnya. Saat ini kita memasuki tahun 2015 dengan beberapa catatan perkara yang terjadi pada tahun 2014 sebagai proyeksi penyakit di tahun 2015. Pada kesempatan kali ini akan sedikit Kami bahas insiden penyakit pada broiler maupun layer. Perkiraan Kami kondisinya tidak akan berbeda jauh dengan insiden tahun ini.

 telah kita lalui dengan banyak sekali problematika yang ada di dalamnya PROYEKSI KASUS PENYAKIT PADA BROILER MAUPUN LAYER 2015
Para peternak sekalian, tercatat selama 2014 kemarin kalo sanggup dibilang tidak ada outbreak yang begitu serius, akan tetapi terdapat penyakit yang cukup tinggi kejadiannya. insiden penyakit ini Kami bagi menjadi 2 belahan yaitu yang disebabkan oleh virus dan non virus.

Untuk penyakit yang disebabkan oleh virus, pada Broiler tercatat GOMBORO mendominasi penyakit lainnya. Sejak awal tahun kejadiaanya cukup tinggi hingga mencapai puncaknya pada sekitar bulan Agustus 2014. Sedangkan pada Ayam Layer, penyakit viral yang paling tinggi kejadiaanya ialah ND. Penyakit ini juga semenjak awal tahun cukup tingi kejadiaannya. Sedikit menurun pada bulan April- Juni namun meningkat lagi pada bulan Agustus 2014.

Untuk penyakit non-virus, tercatat pada ayam broiler insiden CRD kompleks cukup tinggi. Mulai januari kejadiannya cukup tinggi, sedikit menurun pada bulan Febuari, namun kembali meningkat pada bulan Agustus. Yang mengimbangi CRD Komplek pada ayam broiler ialah insiden CRD dan kolibasilosis yang juga cukup tinggi. Sedangkan pada Ayam Layer penyakit non-virus yang mendominasi ialah korisa dan disusul oleh insiden CRD.

Jika dilihat dari data yang ada pada tahun 2012, 2013 dan 2014, secara umum sanggup diproyeksikan insiden 2015 tidak terlalu berbeda sehingga langkah-langkah antisipatif yang sudah berhasil kita lakukan pada tahun-tahun sebelumnya tetap dilaksanakan dan ditingkatkan kualitasnya. Penerapan biosecurity yang ketat, vaksinasi yang sesuai kondisi lapangan, dukungan multivitamin/ aksesori yang baik, penanganan penyakit yang cepat dan sempurna perlu ditingkatkan. Semoga apa yang kami sampaikan ini sanggup bermanfaat bagi para peternak sekalian dalam menagrungi dunia peternakan di tahun ini

Penyebab Serangan Coli Pada Broiler Umur Beliau Atas 2 Ahad

December 29, 2018
PENYEBAB SERANGAN COLI  PADA BROILER UMUR DIA ATAS 2 MINGGU DAN CARA PENCEGAHAN SERTA MENGATASINYA

Para peternak sekalian, mungkin ada sebagian dari Anda yang pernah mengalami insiden ternak broilernya terkena abses colibasilosis pada umur diatas 2 minggu. Nah, pertanyaannya dari mana sumber coli tersebut? Jika dari penetasan tentunya dibawah 1 ahad sudah terlihat abnormalitas/ ketidaknormalan pada anak ayam. Jika dari lingkungan koq sudah umur 2 ahad gres kena, sedangkan semenjak DOC hingga besar memakai sumber air yang sama dan managerila yang juga sama, bila ada infeksi/ penularan dari lingkungan khan tentunya anak ayam yang lebih rentan koq ini diatas 2 ahad gres kena ? Hhmm…, jadi sesungguhnya bagaimana penularannya dan bagaimana cara mencegah serta mengatasinya…?


Para peternak sekalian, sesudah membaca artikel tersebut, anda akan menerima citra ihwal tanda-tanda penyakit yang terdiri dari abses lokal dan abses sistemik, cara diagnosis, pencegahan serta pengobatannya.

Para peternak sekalian, patogen pada suatu lingkungan peternkan ayam umumnya bersumber dari 2 peristiwa, yaitu :
Adanya insiden Omphalitis atau anak ayam yang mengalami abses pada tali pusarnya. Infeksi ini umunnya terjadi selama proses penetasan maupun proses pengangkutan DOC tersebut. Hal ini menyebabkan DOC tersebut sebagai sumber penularan coli pada populasi ayam yang ada pada peternakan tersebut.
Adaya sumber kontaminasi yang masuk ke dalam peternakan membawa coli dalam jumlah yang banyak. umumnya sumber kontaminasi tersebut yaitu air. Kuman coli yang ada dalam air tersebut secara otomatis akan masuk kedalam badan ayam melalui air minum yang telah terkontaminasi. Selanjutnya kuman coli akan dikeluarkan lagi oleh ayam melalui fecesnya. 
 
Para peternak sekalian, sumber insiden colibasillosis/ abses kuman coli pada ayam diatas umur 2 ahad umumnya disebabkan oleh sumber yang ke dua. Melanjutkan pembahasan sumber yang ke dua tadi, maka seiring dengan berjalannya waktu pemeliharaan unggas, jumlah populasi kuman coli pun semakin bertambah banyak didalam sangkar yang kuman tersebut telah bercampur dengan bubuk yang ada pada sangkar dan sekitarnya. Kondisi ini lambat laun menciptakan koli yang melekat pada bubuk tadi masuk kesaluran pernafasan dan lambat laun menyebabkan peradangan pada kantung udara unggas dan melanjut menjadi peradangan pada selaput hati dan selaput jantung. Ini sanggup dilihat bila para peternak sekalian melaksanakan bedah bangkai maka akan terlihat kantung udara yang normalnya berwarna bening maka bila terinfeksi maka akan berwarna keruh keputihan. Hal yang sama juga tampak pada selaput pembungkus jantung dan selaput pembungkus hati. Nah, hal itulah yang umumnya menyebabkan insiden kolibasilosis pada ayam broiler maupun layer umum diatas 2 minggu