Showing posts with label Antibiotika. Show all posts
Showing posts with label Antibiotika. Show all posts
Pengertian Antibiotik Dan Prosedur Kerjanya

Pengertian Antibiotik Dan Prosedur Kerjanya

December 26, 2018
Antibiotika

Antibiotika adalah senyawa berat dengan molekul rendah yang membunuhatau menghambat pertumbuhan bakteri. Sebagian besar antibiotika dihasilkan olehmikroorganisme, khususnya Streptomyces spp. dan jamur (Mutschler, 1999;Salyers dan Whitt, 2005). Penggunaan antibiotika untuk terapi jerawat padamanusia dan binatang harus memenuhi sejumlah kriteria. 

Antibiotika dapatdikelompokkan menurut struktur dari antibiotika tersebut ataupun berdasarkantarget kerjanya pada sel yaitu, broad spektrum, mempunyai kemampuanmembunuh mikroorganisme dari banyak sekali spesies dan narrow spectrum hanyamampu membunuh mikroorganisme secara spesifik (Bezoenet al ., 2000)Terhadap sebagian besar penggunaan, antibiotika harus mempunyaiaktivitas spektrum yang luas (Martin, 1992; Tjay dan Raharja, 2005). 

Bahwaantibiotika harus membunuh atau menghambat pertumbuhan basil dari tipeyang berbeda. Antibiotika broad spektrum mempunyai kegunaan lantaran adanya gejala(simptom) yang sama yang disebabkan oleh basil dari spesies yang berbeda dandari tanda-tanda yang muncul mustahil menunggu isolasi, identifikasi organisme penyebab sebelum terapi dimulai (Nhiem, 2005; Salyers dan Whitt, 2005).

Antibiotika broad spektrum mempunyai kekurangan, tidak hanyamenyerang basil patogen tetapi juga mengurangi jumlah mikroflora usus(Focosi, 2005). Setiap antibiotika harus bisa mencapai kepingan badan dimanaterjadinya infeksi. Beberapa antibiotika tidak diabsorpsi oleh susukan pencernaan, sementara masuk ke pedoman darah tetapi tidak melintasi barrier darah otak dalamcairan spinal dan tidak masuk dalam sel fagosit (Phillips et al., 2004; Focosi,2005).

Munculnya fenomena resistensi antibiotika pada basil patogen sangat berbahaya. Hal ini diduga sanggup mengakibatkan terjadinya perpindahan sifatresistensi antibiotika basil dari ayam dan telur ke insan dan lingkungan(Kusumaningsih, 2007). Adanya resistensi antibiotika basil pada ternak danmanusia sanggup mengakibatkan kegagalan pengobatan penyakit yang disebabkanoleh basil (Phillips et al.)

Mekanisme kerja
Menurut Prescott dan Baggot (1997) dan Mutschler (1999), mekanismekerja antibitotika dibagi dalam empat kategori, yaitu: menghambat sintesa dindingsel (antibiotika golongan beta-laktam, basitrasin dan vankomisin), menghambatsintesa protein (aminoglikosida, linkosamida, makrolida, pleuromutilin dantetrasiklin), merusak fungsi membran sel (polimiksin dan polyenes) danmenghambat fungsi asam nukleat (nitroimidazol, nitrofuran, quinolon danrifampin).
Antibiotika Beta- Laktam

Antibiotika Beta- Laktam

December 26, 2018
Antibiotika Beta- laktam
Menurut Salyers dan Whitt (2005), antibiotika beta-laktam diberi nama menurut 4 anggota cincin beta-laktam. Kelompok ini terdiri dari empat tipeutama yaitu, penisilin, sefalosporin, karbapenem dan monobaktam. Antibiotika initergolong yang paling besar digunakan. Masalah toksikologi utama golongan beta-laktam ini yaitu reaksi alergi yang terjadi akhir terbentuknya beta-laktam/serum protein konyugasi yang mendapat peradangan respon immun.

Seseorang yang alergi terhadap penisilin juga alergi terhadap sefalosporin dan karbapenem (Adam, 2002).Mekanisme kerja antibiotika beta-laktam menghambat tahap simpulan sintesa peptidoglikan, reaksi transpeptidase yang melintasi rantai tepi peptida sumberkekuatan peptidoglikan polisakarida (Prescott dan Baggot, 1997). 

Antibiotika ini juga mengikat dan menghambat agresi membran protein sitoplasmik lain yangmerupakan kiprah dalam sintesa peptidoglikan. Enzim transpeptidase dan proteinlainnya dinamakan penisilin binding protein. Hasil dari beta-laktam terikat pada protein ialah menstimulasi enzim endogen yang didegradasi peptidoglikan(autolisin) (Focosi, 2005).

Secara normal katalisis enzim ini terjadi pada pergantian peptidoglikandilakukan kuman pada ketika tumbuh dan membelah. Antibiotika beta-laktammelepaskan kontrol pada ketika menyimpan enzim ini dan merangsang seranganlain dari peptidoglikan. Penghancuran peptidoglikan dari dinding selmenyebabkan kuman lisis. Beta-laktam secara normal memiliki sifat bakterisid(Salyers dan Whitt, 2005).

Adakalanya, bila kuman pada tekanan osmosis yang tinggi dalam tubuh(ginjal) atau bila pH lingkungan mencegah aktifitas enzim autolitik, bakteriterhindar dari efek antibiotika bheta-laktam. Antibiotika ini berpengaruhterhadap kuman gram faktual dan gram negatif (Adam, 2002). Pemberian secaraoral hanya 5-30% dari takaran yang diserap, tergantung pada stabilitas asam dan ikatan pada makanan. Setelah penyerapan, penisillin tersebar luas dalam jaringandan cairan tubuh.
Antibiotika Glikopeptida

Antibiotika Glikopeptida

December 26, 2018
Antibiotika Glikopeptida

Kelompok lain yang menghambat sintesa peptidoglikan adalahglikopeptida, ditunjukkan oleh vankomisin dan teikhoplanin. Antibiotikaglikopeptida menghambat dua tahap simpulan sintesa peptidoglikan yaitu,transglikosilasi dan transpeptidasi. Vankomisin terutama dipakai untuk pengobatan abuh yang disebabkan oleh kuman gram kasatmata dan vankomisinsangat tidak efektif untuk kuman gram negatif lantaran tidak bisa menembus kepingan luar membran kuman gram negatif (Adam, 2002 dan Focosi, 2005).

Menurut Salyers dan Whitt (2005), meskipun vankomisin mempunyaispektrum yang sempit, antibiotika ini diharapkan di klinik. Vankomisin pentinguntuk pengobatan abuh yang disebabkan oleh strain
Staphylococcus aureus
yang resisten dengan antibiotika lain
Penggunaan Antibiotika Di Peternakan

Penggunaan Antibiotika Di Peternakan

December 26, 2018
Penggunaan Antibiotika di Peternakan

Antibiotika dipakai untuk binatang sebagaimana dipakai pada manusiayaitu untuk mencegah dan mengobati infeksi. Manfaat pengobatan denganantibiotika antara lain membasmi biro penyakit (Butaye
et al., 2003) menyelamatkan binatang dari kematian, mengembalikan kondisi binatang untuk berproduksi kembali dalam waktu yang relatif singkat, mengurangi/menghilangkan penderitaan binatang dan mencegah penyebaran mikroorganisme kealam sekitarnya yang sanggup mengancam kesehatan binatang dan insan (Adam,2002).

Penemuan antibiotika membawa imbas besar bagi kesehatan manusiadan ternak. Seiring dengan berhasilnya pengobatan dengan menggunakanantibiotika, maka produksinya semakin meningkat (Phillips et al., 2004). Padaindustri peternakan pertolongan antibiotika selain untuk pencegahan dan pengobatan penyakit, juga dipakai sebagai imbuhan pakan (feed additive)untuk memacu pertumbuhan (growth promoter), meningkatkan produksi, danmeningkatkan efisiensi penggunaan pakan (Bahri et al., 2005).

Di Eropa ada beberapa antibiotika yang diperbolehkan dipakai sebagaiimbuhan pakan menyerupai olaquinodik, basitrasin, flavomisin, monensin, salinomisin,tilosin, virginiamisin, avoprasin, dan avilamisin. Sejak tahun 1999, antibiotikaolaquinodik, basitrasin, tilosin, dan virginiamisin sudah dihentikan digunakansebagai imbuhan pakan (Butaye et al., 2003). 

Berdasarkan Feed AdditiveCompendium, ada beberapa antibiotika yang direkomendasikan dipakai sebagaiimbuhan pakan pada pakan unggas dan binatang lain, menyerupai penisilin, basitrasin,streptomisin, eritromisin, tilosin, neomisin, tetrasiklin, oksitetrasiklin,klortetrasiklin, linkomisin, spiramisin, dan virginiamisin (Anonimus, 2002).Pemanfaatan antibiotika sebagai imbuhan pakan ternak juga banyakdigunakan di Indonesia. 

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) Bogor memperlihatkan bahwa 71,43% (5/7) pabrik pakan diKabupaten Bogor, Cianjur, Tangerang, Bekasi dan Sukabumi memberikantambahan antibiotika golongan tetrasiklin dan sulfonamida pada produk pakanayam (Bahri et al., 2005). Berdasarkan pengamatan di lapang, antibiotika yanglazim dipakai untuk pencegahan dan pengobatan penyakit antara lainstreptomisin, kloramfenikol, doksisiklin, tetrasiklin, eritromisin, neomisin, tilosin,siprofloksasin, enrofloksasin, dan golongan sulfonamida. 

Antibiotika ini diberikandalam air minum pada ayam-ayam yang memperlihatkan tanda-tanda sakit atau setelahvaksinasi (Kusumaningsih, 2007).Beberapa peneliti melaporkan bahwa diharapkan antibiotika dalam jumlah banyak untuk pengobatan, pencegahan, dan sebagai pemacu pertumbuhan padaternak penghasil daging. 

Pada tahun 2001 dilaporkan bahwa, di Amerika Serikatsetiap tahun membutuhkan sebanyak 900 ton antibiotika untuk pengobatan dansebanyak 11.200 ton antibiotika untuk non pengobatan pada hewan, sedangkanantibiotika yang dipakai untuk pengobatan pada insan hanya digunakan1.300 ton (Phillips et al., 2004).

Kebutuhan antibiotika untuk pakan dan pengobatan tahun 2001 sebesar502,27 ton, kemudian meningkat menjadi 5.574,16 ton pada tahun 2005(Ditjenak, 2006). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penggunaanantibiotika dalam dunia peternakan berkisar antara lain 80% dipakai untukunggas, 75% pada peternakan babi, 60% pada peternakan sapi potong dan 75%antibiotika dipakai dalam peternakan sapi perah masyarakat (Crawford andFranco, 1994).

Dari kenyataan di lapang, dipastikan bahwa pemakaian antibiotika pada peternakan ayam cenderung berlebihan dan kurang tepat. Beberapa penelitimengkhawatirkan bahwa penggunaan antibiotika secara terus-menerus dan dalamwaktu usang melalui air minum atau pakan dalam konsentrasi rendah akan memicuterjadinya resistensi basil terhadap antibiotika pada ternak (Butaye et al.,2003).

Menurut Barber et al.(2003) menurut laporan World Health Organizationmenunjukkan bahwa munculnya fenomena resistensi antimikroba pada basil patogen disebabkan oleh pemakaian antimikroba yang salah pada ternak dan padasaat ini resistensi antimikroba pada ternak dan hasil produksinya (susu, dagingdan telur) telah menjadi persoalan global di seluruh dunia.
Residu Antibiotika

Residu Antibiotika

December 26, 2018
Residu Antibiotika
Residu ialah senyawa asal dan atau metabolitnya yang terdapat dalam jaringan produk hewani dan termasuk residu hasil uraian lainnya dari obattersebut. Semua cara dukungan antibiotika sanggup menjadikan terjadinya residudalam pangan asal binatang seperti, daging susu dan telur (Phillips et al., 2004).

Perhatian besar telah diperlihatkan selama 40 tahun mengenai adanyaresidu antibiotika pada daging ayam di Amerika Serikat. Menurut Adam (2002)residu antibiotika terjadi akhir penggunaan antibiotika untuk kontrol ataumengobati penyakit nanah tidak memperhatikan waktu henti obat, penggunaanantibiotika yang melebihi takaran yang dianjurkan, penggunaan antibiotika sebagaifeed additive dalam pakan hewan.

Pada pangan asal binatang residu meliputisenyawa asal yang tidak berubah (nonaltered parent drug), metabolit dan ataukonyugat lain. Beberapa metabolit obat diketahui bersifat kurang atau tidak toksikdibandingkan senyawa asalnya, namun beberapa diketahui lebih toksik (Phillips,2004 dan Bahri et al., 2005).Faktor-faktor yang menghipnotis distribusi obat dalam badan (fasefarmakokinetika) yaitu, perfusi darah melalui jaringan, kadar gradien, pH danikatan zat dengan makromolekul, partisi ke dalam lemak, transpor aktif, barier(sawar) dan ikatan obat dengan protein plasma atau jaringan (Anief, 1990 danAdam 2002).

Secara umum fase farmakokinetik obat dipengaruhi oleh: keragaman dalam satu spesies, perbedaan spesies, interaksi antar obat,faktorfaktor biofarmasetik, keberadaan kinetika non linear dan penyakit. Pakanyang mengandung antibiotika akan berinteraksi dengan jaringan (organ) dalamtubuh ternak, meskipun dalam jumlah yang kecil dampak yang ditimbulkan tidaksecara eksklusif tetapi akan berefek kronis dan tetap berada dalam badan ternak(Adam, 2002).

Senyawa induk dan metabolitnya sebagian akan dikeluarkan dari tubuhmelalui air seni dan feces, tetapi sebagian lagi akan tetap tersimpan di dalam jaringan (organ tubuh) yang disebut sebagai residu. Jika pakan yang dicampurantibiotika secara terus menerus, maka residu antibiotika tersebut akanterakumulasi di dalam jaringan dengan konsentrasi yang bervariasi antara organtubuh (Bahri et al, 2005).

Antibiotika yang paling sering dideteksi dalam dagingyaitu, penisilin (termasuk ampisilin), tetrasiklin (termasuk khlortetrasiklin danoksitetrasiklin), sulfonamida (termasuk sulfadimethoksin, sulfamethazin dansulfamethoksazol), neomisin, gentamisin dan streptomisin (Phillips et al., 2004).Residu dari semua jenis obat binatang paling tinggi terdapat dihati dan ginjaldibandingkan pada jaringan otot. Hasil analisis menawarkan bahwa kadar residu beberapa antibiotika berbeda pada jaringan berbeda dalam badan ayam.

Secarafarmakokinetik sanggup dijelaskan mengenai metabolisme dan distribusi jenis obat pada binatang yang berbeda, pada fase ini juga sanggup diperkirakan waktu henti obatuntuk menghilangkan kadar obat pada jaringan yang berbeda (Adam, 2002).Menurut Anthony (1997), dampak negatif keberadaan residu antibiotika yaitu, reaksi alergi, toksisitas, menghipnotis tumbuhan usus, respon immun, resistensiterhadap mikroorganisme, dampak terhadap lingkungan dan ekonomi.
Penggunaan Antibiotika Dalam Air Minum

Penggunaan Antibiotika Dalam Air Minum

December 25, 2018
Penggunaan Antibiotika dalam Air Minum
Meningkatnya undangan akan komoditi binatang telah menyebabkandilakukannya intensifikasi perjuangan peternakan ialah dimana binatang dipelihara dalamskala besar. Adanya kecendrungan untuk menentukan cara beternak secara intensiftelah menjadikan mudahnya penularan dari kelompok binatang yang satu kehewan yang lain. Sehingga semakin intensif perjuangan peternakan maka semakin meningkat pula pemakaian antibiotika untuk mengatasi nanah yang seringtimbul.

Pengobatan massal melalui air minum dalam peternakan unggas berskala besar merupakan cara terapi yang paling baik, dibutuhkan pengobatan (terapi)yang cepat dan efektif serta sanggup diikuti dengan pertolongan obat melalui pakan.Hal ini disebabkan lantaran pengobatan melalui cara parenteral (intramuskuler, subkutan dan intra vena) mustahil dilakukan untuk pengobatan massal dalam peternakan berskala besar (Purvis, 2003 dan PIC, 2006).

Hasil pengamatan beberapa peneliti di lapangan menawarkan bahwasetelah dilakukan vaksinasi, akan diikuti dengan pertolongan antibiotik melalui airminum selama 3–4 hari. Apabila ayam-ayam tersebut menawarkan tanda-tandasakit, pertolongan antibiotika dilanjutkan hingga delapan hari, bahkan terkadangsampai sembuh (Bahriet al., 2005).Beberapa negara banyak sekali jenis antibiotika, termasuk golongan tetrasiklin,neomisin, basitrasin, dan preparat sulfa diizinkan untuk diberikan secara terencana pada peternakan ayam.

Pemberian gentamisin dan spektinomisin melalui injeksi pada ayam bibit sanggup mencegah nanah Salmonella enteritidis dari induk ayamke telur yang akan ditetaskan (Kusumaningsih, 2007).Menurut Lukman (1994) khlortetrasiklin, doksisiklin dan oksitetrasiklinmerupakan antibiotika yang paling banyak dipakai untuk pengobatan dangolongan ini tidak diizinkan diberikan melalui pakan ternak di Indonesia.

Derivat penisilin (antibiotika beta- laktam) secara luas dipakai pada sapi, babi danunggas untuk mengobati nanah dan ditambahkan ke dalam pakan atau air minum untuk mencegah beberapa penyakit. Penisilin biasanya cepat hilang dalam darahmelalui ginjal dan keluar melalui urin (Nhiem, 2005).